Brain Death | Mati Otak





dr Abdul lian SpAn KNA
Bagian Anestesiologi Faked Undip Semarang

Brain | Otak orang dewasa yang beratnya 2% dari berat badan,dilayani sirkulasi darah 15% dari kardiak output dan membutuhkan oksigen 20% dari konsumsi oksigen seluruh tubuh atau lebih kurang 3,3 ml O2 /100 gram otak menit yang dikenal dengan istilah laju metabolik otak untuk O2(CMRO2) dimana (55-60)% nya digunakan untuk mempertahankan intergritas seratus milyard neuron otak berupa homeostasis,mempertahankan perbedaan ion,stablitas membran, aktifitas mitokondria dan pengeluaran CO2,sementara (40-45)% nya digunakan untuk fungsi neuron berupa pembentukan dan penghantaran impuls. Tergantung pada aliran darah otak(CBF),oksigen dan glukose.

Sumber energi otak sebagian besar diperoleh dari glukose sedangkan sumber yang lain ialah hidroksi butirat dan aceto asetat.Ketidak mampuan perfusi otak karena penurunan CBF dibawah kritis untuk memenuhi pasokan oksigen dan nutrien yang diperlukan untuk pemeliharaan intregritas metabolisme dan fungsi neuron yang merupakan dasar kerusakan otak yang dikenal dengan iskemia cerebri dengan konsekwensi mulai dari transsient ischemic attack( TIA) sampai terjadi mati otak.

Penurunan CMRO2 sampai 2,0 cc/100 gram otak/menit  berakibat koma sedangkan penurunan CMRO2 sampai dibawah sepertiga normal bisa menyebabkan brain stem death (mati batang otak).

Yang termasuk batang otak adalah medulla oblongata,pons,thalamus,hipothalamus,retikular aktivating system,basal ganglia,limbik system tetapi yang utama adalah medulla oblongata dan pons dimana terletak pusat
pernafasan dan sirkulasi, kesadaran dan nukeus syaraf kranial.

MATI BATANG OTAK (MBO):
Yang dimaksud mati dewasa ini adalah mati batang otak walaupun jantung masih berdenyut dan respirasi dengan ventilator masih dipertahankan.

Dahulu definisi kematian adalah apnoe(henti nafas) dan circulatory arrest(henti sirkulasi) dimana aktivitas cerebral terhenti sebentar (reversible) masih mungkin dilakukan cardiopulmonary dan brain resusitasi kemungkinan fungsi otak kembali normal, kematian seperti ini disebut Clinical death(mati klinis).

Bila mati klinis berlanjut tanpa resusitasi akan terjadi nekrosis seluruh jaringan tubuh dimulai dari otak, disebut biological death (mati biologis).

Sedangkan sosial death (mati sosial) (persistent vegetative state)(sindroma apalika) menggambarkan kerusakan otak yang irreversible dimana pasien tetap tak sadar /tidak responsif tetapi mempunyai EEG yang masih aktif dan beberapa reflek masih utuh.

Cerebral death (mati cerebral) dimana cerebrum mengalami nekrosis terutama neocortical. Brain death (total brain death)(mati otak total) adalah mati cerebral dengan nekrosis sisa otak lainnya (cerebellum,midbrain dan brain stem).(otak kecil,otak tengah dan batang otak). Harus dibedakan brain death dengan severe neurological dysfunction dimana masih ada menetap sedikit aktifitas otak,biasanya kita bagi dua golongan:

1. Locked in Syndrome (paralytic akinesia) (cerebrospinal dysconection)
    Dalam keadaan ini :
  • Mental awareness(+)
  • Cranial nerve dysfunction (+)
  • Voluntary muscle movement (-)

umpama : lesi medulla-pontine.
               
2. Apalic syndrome :
  • Depressi awareness yang dalam depressi EEG sampai isoelektrik.
  • Fungsi brainstem masih berlangsung atau bisa ditimbulkan.

Untuk itu baik fungsi cortical maupun brainstem harus diteliti dengan kriteria yang ditetapkan dalam menentukan brain death. Yaitu yang ditetapkan oleh Presbyterian University Hospital Pittsburg. Kriteria untuk menentukan diagnosis MBO (mati batang otak). Pasien yang diobservasi harus di rumah sakit, dengan dua kali pemeriksaan. Klinik dimana jarak (interval) kedua pemeriksaan tidak kurang dari dua jam dilakukan oleh minimal 2 ahli yang mendapat kompetensi (neurologist,neuro surgeon atau intensivist) bersama atau terpisah.

  • Koma dengan sebab yang ditetapkan,dan tidak adanya induced hipotermia dan obat-obat yang bersifat depressant. Jika ada indikasi pemeriksaan ethanol darah, dan toksikologi harus dilakukan dan temperatur tubuh juga dicatat.
  • Tidak dijumpai gerakan otot spontan,tanda-tanda sikap abnormal (decerebrasi&decorticasi) atau menggigil dalam keadaan tanpa muscle relaxant (pelemas otot) atau obat sedatif.
  • Cranial reflexes & responses:(minimal lima reflex negatif).

  1. Tak ada respons reflex cahaya pupil ini disamarkan oleh obat antikolenergik.
  2. Tak ada cornea reflex.
  3. Tak ada respons terhadap stimulus sakit yang hebat seperti tekanan pada supra orbital.
  4. Tak ada respons terhadap stimulus jalan nafas bagian  atas dan bawah umpama pharyngeal atau penghisapan endotracheal.
  5. Tak ada respons okular bila telinga diirigasi dengn 50 cc air es (tak ada gerakan mata)(reflexoculovestibular). Hal ini bisa disamarkan oleh obat ototoksik,penekan vestibular.
  6. Tak ada gerakan bola mata bila kepala diputar(reflex oculocephalic).

  • Tak ada gerakan nafas spontan selama tiga menit bila ventilator dilepas dan PaCO2 > 50 Torr pada akhir test apnoe dalam hal ini tanpa pelemas otot, tak dilakukan bila ICP tinggi. Jika pada riwayat penyakit pasien mempunyai keter gantungan pada stimulus hipoksia untuk pernafasan  umpama pada penderita COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Diseases) maka PaO2 pada akhir test harus < 50 Torr. Jadi dicatat PaO2 dan PaCO2 pada akhir test apnoe.


Test apnoe :
  1. Pre oksigenasi selama 10 menit dengan O2 100% untuk  mencegah hipoksia.
  2. Beri CO2 5% dalam 95% selama 5 menit berikutnya untuk menjamin PaCO2 awal 40 torr.
  3. Ventilator dilepas, insuflasi O2 6L/menit via kateter lewat karina selama sepuluh menit,untuk mencegah hipoksia, agar tak terjadi kerusakan organ. 
  4. Test ini diulang dengan selang waktu 25- 40 menit, untuk mencegah kesalahan pengamatan.


  • Gambaran EEG yang isoelektris : Dengan minimal tehnik pencatatan yang telah ditetapkan bisa terjadi atas pengaruh sedatif encepfalitis,trauma otak atau anoksia atau hipotermia yang dalam.
  • Kegagalan menaikkan heart rate (kecepatan denyut jantung) dengan pemberian 1-2 miligram Sulfas atropin intra vena setelah lima menit atau kenaikan tak lebih 5x/menit.

Penetapan diagmosis MBO perlu untuk menentukan sikap kita dalam mempertahankan atau mengakhiri tindakan resusitasi gawat darurat. Bila diagnose MBO sudah pasti maka pasien dinyatakan meninggal dengan sertifikat kematian. Walau jantung masih berdenyut, tidak diperlukan persetujuan keluarga untuk membuat sertifikasi kematian.

Tetapi bila pasien telah menyatakan dirinya sebagai donor organ sebelum kematiannya maka setelah onset braindeath resusitasi terus dilakukan sampai organ tubuh pasien dikeluarkan untuk mempertahankan keawetan organ, tetapi kontra indikasi bila dijumpai beberapa keadaan tertentu, dibahas dalam management resusitasi untuk transplantasi organ.

Setelah MBO cardiac death (mati jantung) sekunder biasanya terjadi setelah 72 jam sejak MBO tetapi kadang kadang walau jarang bisa sampai satu bulan. Ini karena merupakan efektor autonom yang bekerja tanpa pengaruh syaraf pusat dalam waktu terbatas. Sikap kita ventilator dihentikan biarkan saja sampai circulasi berhenti sendiri.

Mati jantung adalah henti jantung yang irreversible dimana EKG isoelektris selama minimal 30 menit, (intractable electric asystole) walaupun terapi CPR telah optimal. Tidak ada pulsasi tetapi ada EKG complex (mechanical asystole tanpa electric asistole) bukanlah tanda irreversibelity cardiac. Selama aktifitas EKG berlangsung kita harus bersikap bahwa masih ada waktu untuk memulihkan circulasi spontan. Sebenarnya aktifitas EKG bisa berlangsung setelah beberapa menit terjadi henti jantung tanpa resusitasi atau berjam-jam selama CPR dilakukan.

Selama CPR dengan dada tertutup tanpa monitoring EKG tak bisa dibuktikan adanya henti jantung yang irreversible oleh karena ventrikel fibrilasi mungkin ada dan ventrikel fibrilasi selalu mungkin reversible. Ada beberapa kasus ventrikel fibrilasi setelah CPR berjam-jam disertai defibrilasi pulih kembali kesadarannya.

Bila telah dilakukan CPR ditemukan sirkulasi spontan,reaksi pupil positif respirasi spontan, gerakan spontan ini menunjukkan adanya oksigenasi serebral. Bila pupil tetap dilatasi tanpa reaksi,tanpa respirasi spontan selama 1-2 jam,walaupun sirkulasi spontan sudah dicapai, ini menunjukkan kerusakan otak yang hebat walaupun tidak selalu disertai mati batang otak. Perlu diketahui pupil dilatasi /fixed bisa dijumpai diluar mati otak yaitu kontussio serebri,perdarahan intra kranial,pemberian katekolamin waktu resusitasi atau overdosis obat-obat hipnotik.

Secara kasar pasien yang sadar dalam waktu sepuluh menit sesudah sirkulasi spontan akan pulih kembali dengan fungsi otak yang normal,tetapi setelah 6-12 jam sejak sirkulasi spontan dilakukan penekanan yang kuat pada sudut mandibula, tanpa respons nyeri, tanpa Doll eyes,biasanya pasien akan menderita kerusakan otak yang permanent (Bates).

Bila fasilitas EEG,monitor gas darah tak ada maka angiografi karotid yang menunjukkan tidak ada flow intrakranial alternatif yang dapat diterima sebagai bukti adanya MBO. Pada tahun 1988 IDI mengeluarkan pernyataan berkaitan kapan seorang dinyatakan mati.
  • Bila pernafasan spontan dan jantung telah pasti berhenti,setelah dilakukan CPR optimal.
  • Bila telah dipastikan terjadi MBO, tetapi pada CPR darurat dimana tidak mungkin menentukan MBO



Maka seorang dapat dinyatakan mati bila :
  1. Ditemukan tanda-tanda mati jantung.
  2. Setelah dimulai CPR pasien tetap tidak sadar, tidak muncul nafas spontan, reflex muntah negatif serta pupil tetap dilatasi,selama lebih 30 menit kecuali pasien hipotermik atau dibawah pengaruh barbiturat atau anestesi umum.

Check list untuk diagnose klinis dari brain death menurut Medical Center of Pittsburgh University dalam menerbitkan sertifikasi kematian :

Tidak adanya cofounding factors :
  • Tekanan darah sistolik > 90 mmHg tanpa vasopressor dan perfusi perifer adekuat.
  • Suhu tubuh > 32 derajat C dibawah 32 C EEG bisa isoelektris.
  • Tanpa obat mendepressi CNS (anestetik,narkotik,sedatif,alkohol). Kadar sedatif tidak > subterapetik, kadar alkohol tak >= 100 mg%. Bila curiga lakukan test toksikologi. Tak menggunakan pelemas otot, bisa membuat apnoe atau gerakan(-). 
  • Tidak ada uremia,meningo ensefalopati,hepato ensefalopati atau metaboilik ensefalopati bila ada harus diambil EEG untuk menentukan brain death.


Absen fungsi serebral dan batang otak
  1. Tak ada reflex batang otak termasuk test apnoe.
  2. Tak ada responsivity dan reseptivity dari serebral.
  3. Tak respons terhadap stimulus nyeri (penekanan supra orbital).
  4. Tak ada gerakan otot spontan, deserebrate rigidity atau decorticasi atau kejang.
  5. Tak ada reflex cahaya pupil(fixed)(paling penting) (takperlu dilatasi atau equal)
  6. Tak ada reflex kornea (kelemahan facial sebelumnya bisa bikin reflex kornea negatif).
  7. Tidak ada reflek batuk dan menelan (tak respons terhadap stimulus jalan nafas atas dan bawah) dengan menyedot faring atau trakea, via pipa trakeal. (test n.vagus dan glossopharyngeal).
  8. Tak ada reflex okulosefalik dengan memutar kepala arah kesisi kontralateral tidak ada gerakan bola mata, tak boleh dilakukan pada fractur cervical.
  9. Tak ada reflex okulo vestibular (meninggikan kepala 30 derajat, lakukan irigasi 50 cc air es kedalam saluran telinga luar tidak ada gerakan bola mata boneka.(test labirinth)
  10. Tidak ada peningkatan denyut jantung kalaupun ada tak lebih dari lima kali permenit sesudah 5 menit diberikan 0,04 mg/kg atropin iv. Sebagai tes fungsi n vagus dimana atropin sebagai vagolitik. Dicatat denyut jantung sebelum dan sesudah test atropin.
  11. Apnoe pada saat PaCO2 > 60 mmHg merupakan stimulus paling kuat untuk merangsang pusat nafas minimal 30 detik. Dicatat PaCO2 dan PaO2 pada akhir test apnoe.

Test untuk mengkonfirmasi diagnose brain death (confirmatory test) evaluasi fungsi neuron atau sirkulasi darah intra kranial.
  • EEG adanya elektro serebral silence, lebih dari 30 menit. Test ini dilakukan bila ada encefalopati, penyebab koma tidak tahu atau global iskemia sudah berlangsung 24 jam atau paling sedikit satu pemeriksaan tidak dilakukan atau test apnoe tidak bisa dilakukan takut terjadi henti jantung.
  • Cerebral arteriografi (4 pembuluh darah serebral) tidak dijumpai sirkulasi darah intrakranial, test ini dilakukan kalau pasien hipotermia berat,mendapat  CNS depressant, alkohol atau pelemas otot.


Semua hasil pemeriksaan telah memenuhi kriteria MBO walaupun jantung masih berdenyut.

Sertifikasi kematian :                       

Setelah mempertimbangkan hal-hal diatas dengan ini kami menyatakan kematian atas nama,jenis kelamin,umur,dan alamat,tanggal dan jam meninggal,ditanda tangani oleh dua orang dokter. Langkah selanjutnya memberi tahu keluarganya akan dihentikan bantuan hidup yang ujungnya sia-sia bukan berarti membiarkan mati.

Bila keluarga sudah menerima tentang kematian otak maka ventilator,monitor dan infus di stop,dilakukan oleh petugas yang merawat, biarkan sampai jantung berhenti sendiri.
Bila akan dilakukan transplantasi organ minta persetujuan tertulis dari keluarga. 
Bila setuju maka teruskan bantuan utama untuk mencegah injury organ.

Kontroversi MBO :                                  

Ada bukti-bukti menunjukkan residual neuron function yang bisa bertahan walaupun telah dinyatakan semua kriteria telah dipenuhi untuk diagnose MBO. Termasuk berlanjutnya produksi hormon hipofise/hipotalamus dan bertahannya suhu tubuh tetap normal walaupun pada angiografi 4 pembuluh darah serebral tidak ada tanda-tanda sirkulasi intrakranial. Masih ada spontanous depolarisation bisa ditest dengan menempatkan elektrode lebih dalam meskipun EEG cortex isoelectric silence.

Adanya enviromental responsiveness dibuktikan dengan naiknya tekanan darah dan kecepatan denyut jantung sebagai respons pembedahan selama organ procurement diduga respons terhadap stimulus komponen extra kranial dari ANS. Namun hal ini bisa terjadi sebab definisi MBO adalah hilangnya permanent semua fungsi neuron terpadu bukan kematian semua cell.

Ringkasan :

Kriteria MBO yang digunakan sejak 1968 di Universitas Pittsburgh termasuk ketiadaan total, aktivitas serebrum dan batang otak pada dua pemeriksaan klinis dengan interval minimal dua jam,tanpa depresan CNS,pelumpuh otot dan hipotermi. Diantara dua pemeriksaan klinis dilakukan perekaman EEG dengan atau tanpa stimulasi suara,dengan pembesaran dua mikrovolt per mm menunjukkan rekaman isoelektrik selama minimal 30 menit. Tidak terdapatnya pernafasan spontan selama 3 menit dimana PaCO2 harus >50 torr untuk penderita COPD yang memerlukan hipoksia untuk pernafasan maka PaO2<50 torr untuk ini perlu analisa gas darah. Reflex dan respons saraf otak termasuk reflex pupil harus tak ada. Laju jantung tak boleh meningkat selama pemberian atropin iv. Semua aktivitas batang otak tidak ada kecuali aktivitas sumsum tulang karena neuron sumsum tulang belakang masih hidup setelah mati otak.

Bila fasilitas EEG atau BGA tidak ada, maka angiografi untuk memastikan tidak ada perfusi intrakranial sebagai alternatif. Namun bila pemeriksaan laboratorium juga tak ada maka pemeriksaan klinis saja mencukupi. Persetujuan keluarga tidak perlu untuk sertifikasi mati otak dan dua dokter minimal menanda-tangani sertifikat kematian pasien.


KEPUSTAKAAN :
  1. Safar Pieter; Cardiopulmonary Cerebral Resuscitation, Published by Asmund S.Laerdal, Stavanger,Norway, 1984.
  2. Albin,Maurice : Brain death and vegetative state;Text Book of Neuroanesthesia with neurosurgical and Neuroscienceperspective, The MC Graw Hill Company, Newyork, Sanfransisco, Toronto, Sydney, 1977
  3. GurningEJK; Brainstem death and Management of organ Donor, Text Book of Neuro anesthesia and Critical Care, edited by Menon K, Matta F. Greenwich Medical Media Ltd., London.2000.
  4. Grenvik et all; Cessation of theraphy in terminal illness and braindeath; Critical Care Medicine vol.6 no.4 Augt,1978.
  5. Pernyataan IDI tentang mati, Cermin Dunia Kedokteran, no.57,1989.
  6. Safar P, Resusitasi paru jantung otak,terjemahan IAAI Jakarta,Agustus,1984.

Mental Health | Kesehatan Jiwa






Dalam bahasa inggris mental yang sehat disebut mental health. Dan dalam bahas latin kata mental disebut mens atau mentis yang artinya jiwa, nyawa, sukma, roh, dan semangat.[1] Dalam Bahasa Indonesia kata mental diartikan dengan “batin dan watak manusia yang bukan bersifat badan atau tenaga”.[2] Sedangkan kata kesehatan berasal dari kata dasar “sehat” yang berarti “baik atau dalam keadaan normal”.[3], yang merupakan lawan dari kata sakit atau keadaan abnormal.

Terdapat beragam pemaknaan untuk merumuskan kesehatan mental sebagai kondisi kejiwaan dari para ahli psikologi, diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Musthofa Fahmi: kesehatan jiwa atau mental adalah bebas dari gejala dan gangguan kejiwaan (kegoncangan jiwa).[4]
  • Karl Menninger: Kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum, yang meliputi kemampuan menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain dan sikap hidup yang bahagia.[5]
  • Syamsu Yusuf: kesehatan mental adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan perkembangan orang lain.[6]
  • Zakiah Daradjat: kesehatan mental adalah keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan lingkungannya berlandaskan keimanan dan ketakwaan untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.[7]
  • Abdul Aziz el-Qudsy: kesehatan mental adalah keserasian yang sempurna (integrasi) antara fungsi-fungsi jiwa yang bermacam-macam disertai kemampuan untuk menghadapi kegoncangan-kegoncangan jiwa yang ringan disamping secara positif dapat merasakan kebahagiaan dan kemampuan.[8]
  • Yahya Jaya: dari segi agama kesehatan mental adalah keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME.[9]


Berdasarkan rumusan-rumusan di atas maka kesehatan mental yang dimaksud disini adalah kondisi mental yang sehat (mental health) yaitu adanya keserasian yang sungguh-sungguh antara f ungsi-fungsi jiwa, terbebas dari segala goncangan jiwa yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang (yang selaras dengan perkembangan orang lain), berdasarkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Indikator Mental Yang Sehat (Mental Health).

Mental atau jiwa manusia adalah hal-hal yang abstrak dan sulit diamati dari luar, untuk bisa merumuskan tolak ukur kesehatannya perlu dilakukan perbandingan terlebih dahulu dengan hal yang sifatnya konkret yang juga terdapat pada manusia seperti badan atau jasmaninya.

Seseorang dikatakan memiliki jasmani yang sehat apabila terdapat keserasian yang sempurna antara fungsi-fungsi jasmani yang bermacam-macam yang disertai kemampuan untuk menghadapi kesukaran-kesukaran yang biasa terjadi dan secara positif merasa kuat, gesit dan bersemangat.[10]

Dalam pengertian ini jasmani yang sehat ditandai dengan adanya koordinasi yang sungguh-sungguh antara anggota tubuh. Sehingga masing-masing bisa berfungsi sebagaimana mestinya dan adanya kemampuan tubuh untuk menghadapi perubahan-perubahan yang biasa terjadi pada lingkungan, seperti naiknya suhu tubuh dan kinerja jantung ketika terjadi perubahan suhu udara atau serbuan sel-sel darah putih ketika terjadi luka. Hal ini memungkinkan tubuh untuk bisa menangkal penyakit-penyakit yang ringan sehingga tubuh merasa sehat, segar, kuat, dan bersemangat.

Berdasarkan tolak ukur jasmani yang sehat tersebut maka dapat dirumuskan bahwa mental yang sehat tolak ukurnya adalah keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa yang disertai kemampuan jiwa untuk menghadapi kegoncangan-kegoncangan jiwa yang ringan serta secara positif merasakan kebahagiaan dan kemampuan.[11]

Selain itu tolak ukur yang tidak kalah penting dikemukakan oleh Zakiah Daradjat bahwa mental yang sehat adalah yang beriman kepada Tuhan YME, atau memiliki keyakinan beragama.[12]

Adapun penjelasan indikator-indikator ini adalah sebagai berikut:

Keserasian Fungsi–fungsi Jiwa

Keserasian fungsi-fungsi jiwa merupakan bentuk keseimbangan antara berbagai potensi jiwa sehingga jiwa atau mental (secara keseluruhan) dapat terbebas dari goncangan akibat ketidakserasian yang sering terjadi. Fungsi-fungsi jiwa tersebut meliputi pikiran, perasaan, dan kemauan (dorongan).[13] Fungsi-fungsi ini disebut pula dengan fungsi penyesuaian diri.

(*) Pikiran
Banyak yang menduga bahwa pikiran tempatnya di otak, sedangkan hati (kalbu) tempatnya di jantung. Hal ini tidak dibenarkan karena pikiran dan hati (kalbu) adalah sesuatu yang abstrak yang berada pada jiwa manusia dan bukan merupakan organ tubuh. Pikiran tidak berupa materi tetapi merupakan energi yang bermagnet kuat yang bisa mempengaruhi apa saja, orang, binatang, tumbuhan, bahkan benda.[14]

Pikiran adalah “hasil pekerjaan akal, bisa berupa bahan yang masuk dan diolah akal (dipikirkan melalui proses berfikir) maupun berupa buah karya akal.[15] Berfikir merupakan kemampuan untuk meletakkan hubungan dari bagian-bagian pengetahuan proses atau jalannya berfikir dimulai dari pembentukan pengertian kemudian pembentukan pendapat dan terakhir adalah penarikan kesimpulan.[16] Proses berfikir biasanya dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas tertentu yang masuk ke akal untuk dicarikan solusi atau penyelesaiannya dengan diorientasikan pada kenyataan.[17] Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, terdapat dua bentuk kemampuan pikiran sebagai buah karya akal yaitu pikiran positif dan negatif. Pikiran positif (baik) akan mendorong individunya untuk berbuat baik demikian pula sebaliknya. Pikiran biasanya disalurkan melalui perkataan kemudian di tindak lanjuti melalui perbuatan. Namun pikiran juga bisa tidak disalurkan melalui dua cara tersebut tetapi melalui getaran-getaran tak terlihat yang bisa mempengaruhi makhluk lainnya. Pengaruh pikiran ini biasanya disebut sugesti.[18]

Dilihat dari sifatnya pikiran juga bisa dibedakan menjadi pikiran yang kuat dan yang lemah. Pikiran kuat akan dapat meminimalkan pengaruh sugesti dari luar sehingga kondisinya lebih stabil, sedangkan pikiran lemah merupakan kebalikannya, lebih mudah terpengaruh sugesti luar dan labil.
Pikiran yang menjadi bagian dari mental yang sehat adalah pikiran yang positif dan kuat (konsentrasi tinggi, optimistis, realistis, tanpa adanya fantasi dan angan-angan yang berlebihan). Sehingga mampu memaksimalkan kemampuannya dalam proses berfikir yaitu mampu berfikir secara mendalam dengan wawasan tajam dan jernih serta menggunakan akal budi dan kebijaksanaan hingga tersusun reorganisasi dari aktivitas-aktivitasnya.

(**) Perasaan
Perasan merupakan suasana batin yang dihayati seseorang pada suatu saat yang tidak banyak melibatkan aspek-aspek fisik karena sifatnya yang tenang dan tertutup.[19] Perasaan (kesadaran) adalah fungsi mental terpenting karena mental bisa dipelajari melalui perasaan.[20] Perasaan bergerak dari ujung paling positif yaitu sangat senang sampai ujung paling negatif yaitu sangat tidak senang yang terlebih dahulu diawali dengan proses pengenalan.[21]

Perasaan sifatnya subyektif. Perasan satu orang akan berbeda dengan perasaan yang lainnya walaupun obyek yang dihadapi sama. Apa yang dirasa menyenangkan bagi seseorang belum tentu dirasakan sama oleh yang lain. Selain itu sifatnya juga temporer (tidak menetap), sesuatu yang dirasa enak dan menyenangkan pada suatu saat belum tentu dirasakan sama pada saat yang lain.

Perasaan berkembang bersama dengan individu dan pengalamannya. Semakin dewasa dan luas pengalaman seseorang akan semakin luas pula ruang lingkup perasaan dan kecenderungannya.[22] Perasaan pada waktu kanak-kanak hanya terdiri atas sejumlah kecil pengenalan peradaban sederhana secara kasar, kemudian perasaan tersebut tumbuh seiring dengan pertambahan usia (kematangan) dan pengalamannya. Perasaan akan terus bertambah kuantitas perasan bisa menjadi sangat banyak.

Biarpun kuantitasnya banyak dan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya, tetapi secara umum perasaan dapat dibedakan menjadi dua yaitu perasan indriah dan rohaniah. Perasaan jasmaniah berkaitan dengan keadaan jasmani seperti, rasa asin, pahit, sehat, letih, lapar, haus dan yang lainnya. Sedangkan perasaan rohaniah berkaitan dengan perasaan jiwa yang lebih abstrak seperti rasa harga diri, rasa keindahan, kesusilaan, rasa sosial, dan masih banyak yang lainnya.[23]

Perasaan-perasaan tersebut bisa bersifat konstruktif (membangun) dan bisa bersifat destruktif (merusak). Perasaan gembira (senang) cenderung konstruktif, sedangkan perasaan sedih cenderung destruktif (melemahkan). Perasaan akan memberikan pengaruh kuat terhadap pikiran, kemauan, dan perbuatan.[24]

Perasaan-perasaan jiwa (psikis) berpengaruh besar terhadap kebahagiaan individunya. Perasaan seseorang juga mudah menular (infeksi psikis) terhadap orang-orang disekitarnya. Kebahagiaan, kecemasan, kesedihan atau perasaan lain yang dialami seseorang, bisa dialami juga oleh lingkungannya.

Kondisi perasaan yang berkesinambungan yaitu dengan selalu timbulnya rasa senang-tidak senang secara baur (tidak jelas) biasa disebut dengan “suasana hati”. Perasaan-perasaan (suasana hati) tersebut mengandung penilaian konteks terhadap situasi hidup (lingkungan) yang bisa menjadi dorongan untuk berbuat baik atau sebaliknya kepada lingkungannya. Perasan merupakan bagian primer dari kehidupan psikis, tetapi dia juga dipengaruhi oleh pikiran (fungsi pengenalan dan pengalaman masa lalu, dan pemecahan konflik) serta dorongan-dorongan perasaan positif muncul apabila terpenuhinya berbagai dorongan kebutuhan, sedangkan perasaan negatif muncul apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi.[25]

Perasaan negatif seperti rasa cemas, lelah, perasaan takut, rendah diri (perasaan diri negatif) bisa menimbulkan perasaan takut atau rasa tidak sehat yang bisa mengganggu efisien kerja sehari-hari. Perasaan tersebut bisa mempermudah masuknya pengaruh luar yang masuk kedalam jiwa. Pada tiap-tiap orang ada satu perasan yang menonjol, bisa terhadap harta, ilmu, anak-anaknya atau terhadap dirinya sendiri. Perasaan yang menonjol itulah yang dapat menyatukan arah perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan yang besar terhadap kelakuannya untuk memuaskan atau memenuhi keinginan (perasaan dorongan) yang menonjol tersebut.[26]

Dalam ilmu jiwa telah diteliti bahwa yang merupakan pengendali utama dalam sikap, tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal (pikiran) saja, akan tetapi perasaan justru memegang peran yang lebih penting. Tidak selamanya perasaan tunduk pada pikiran, bahkan pikiranlah yang sering kali harus tunduk pada perasaan.[27] Perasaan bisa bekerja dan mempengaruhi pikiran tanpa pikiran menyadarinya. Pikiran dan perasaan dalam intensitas tertentu bisa menjadi dorongan-dorongan untuk melakukan sesuatu.

(***) Dorongan
Dorongan merupakan bentuk-bentuk perasaan dan pikiran yang bercampur daripadanya suatu kemauan untuk melakukan sesuatu. Dorongan dapat dibagi menjadi dua macam yaitu dorongan yang khusus (naluri) dan dorongan yang umum.

Dorongan khusus (naluri) merupakan satuan-satuan keturunan yang diwarisi dalam berbagai tingkatan tertentu,[28] yang merupakan pembawaan dari lahir untuk melakukan tindakan tertentu pada saat tertentu. Contoh naluri adalah naluri keibuan, ingin tahu, berperang, menyelamatkan diri, mencari makan, jijik, seks, minta tolong, tunduk berkuasa, berkumpul, meruntuh-membangun, dan naluri ketawa.[29] Kelakuan manusia dapat dikembalikan kepada dorongan fitrahnya yang utama atau naluri ini, karena naluri merupakan penggerak utama dari kelakuan.[30]

Dorongan umum meliputi sugesti, simpati, imitasi dan bermain. Sugesti merupakan pemindahan pemikiran (pengenalan) dari seorang kepada orang lain yang bisa terjadi dengan syarat-syarat tertentu.[31] Simpati merupakan suatu kecenderungan untuk turut melaksanakan apa yang dirasakan orang lain (feeling with another person).[32] Sedangkan imitasi, merupakan perpindahan bermacam kelakuan orang lain (untuk ditiru). Adapun bermain adalah kecenderungan untuk bersenang-senang.

Karena dorongan erat kaitannya dengan pikiran dan perasaan, maka dorongan juga bisa bersifat konstruktif atau destruktif , dimana pembentukan masing-masing saling berkaitan satu dengan yang lain. Dorongan merupakan motivasi jiwa untuk memenuhi kebutuhan.[33] Baik fisik maupun psikis, kebutuhan fisik meliputi makan-minum, seks, atau istirahat. Sedangkan kebutuhan psikis berbeda antara satu orang dengan orang lain karena tergantung pengalaman, pendidikan, dan lingkungan. Akan tetapi ada juga kebutuhan jiwa yang dirasakan oleh setiap orang seperti kebutuhan jiwa yang dirasakan oleh setiap orang seperti kebutuhan akan rasa kasih sayang, aman, bebas, harga diri atau sukses.[34]

Ketiga fungsi jiwa ini (pikiran, perasaan, dan dorongan) biarpun intensitasnya berbeda namun, selalu berkaitan dalam kehidupan psikis. Pengenalan (pemikiran) selalu disertai dengan perasaan dan atau dorongan, demikian pula perasaan dan dorongan selalu disertai dengan pengenalan (pemikiran).[35] Sehingga hampir tidak ada yang disebut dengan perasaan murni atau pengenalan dan dorongan murni tanpa melibatkan fungsi yang lain.

Keserasian fungsi-fungsi jiwa terjadi apabila masing-masing dari fungsi tersebut bekerjasama secara harmonis dimana tidak ada yang difungsikan lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya diperlukan.[36] Sehingga memunculkan kemampuan untuk menghadapi perubahan baik dari lingkungan luar maupun dari fisiknya. Akan tetapi tidak jarang ketiganya saling berbenturan atau berlawanan sehingga menimbulkan kegoncangan-kegoncangan dalam jiwa. Apabila ketiganya tidak mampu untuk berintegrasi kembali maka kegoncangan yang terjadi bisa semakin hebat sehingga melebihi kemampuan jiwa. Keadaan inilah yang menyebabkan keadaan sakit pada jiwa. Namun perlu diingat bahwa tidak ada keharmonisan yang benar-benar sempurna, karena kemampuan fungsi jiwa pada masing-masing orang berbeda, yang menunjukkan sehat tidaknya mental adalah derajat jauh dekatnya keserasian tersebut dengan kondisi yang normal.[37]

[1] Kartini Kartono dan Jenny Andari, Hyhiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, (Bandung:: Penerbit Mandar Maju, 1989), hlm. 3

[2] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembina Dan Pengembangan Bahas Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hlm. 646.

[3] Ibid., hlm. 890

[4] Musthofa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), hlm. 21

[5] A. Supratiknya, Mengenal Perilaku Abnormal, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995), cet.6, hlm. 9

[6] Syamsu Yusuf, op.cit., hlm. 19

[7] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental Peranannya dalam Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1984), hlm.4

[8] Abdul Aziz el-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa atau Mental, terj. Zakiah Daradjat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989). Hlm. 38

[9] Yahya Jaya, Spiritual Islam: Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 79

[10] Abdul Aziz el-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa atau Mental., op.cit., hlm. 36

[11] Ibid., hlm. 36

[12] Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, tth), hlm. 45

[13] Karini Kartono, Patologi Sosial 3: Gangguan-gangguan Kejiwaan, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), cet.1, hlm. 6

[14] Mas Rahim Salaby, Mengatasi Kegoncangan Jiwa, Membangun Ketahanan Mental: Perspektif al-Qur'an dan Sains, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), cet.1, hlm. 108

[15] Ibid.

[16] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), cet.7, hlm. 54

[17] WF. Maramis, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, (Surabaya: Erlangga University Press, 1990), hlm. 113

[18] Mas Rahim Salaby, op.cit., hlm. 110

[19] Nana Syaodih Sukamadinata, op.cit.,hlm. 109-110

[20] Abdul Aziz el-Qudsy, Ilmu Jiwa: Prinsip-prinsip dan Implementasinya dalam Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, tth), hlm. 136

[21] Maksudnya perasaan bersangkutan dengan fungsi mengenal sehingga dapat timbul karena mengamati, mengkhayalkan, menanggapi, memikirkan atau mengingat-ingat sesuatu.

[22] Abdul Aziz el-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa atau Mental , op.cit.,hlm.132

[23] S umardi Suryabrata, op.cit., hlm. 67-69

[24] Kartini Kartono, Patologi Sosial 3: Gangguan –gangguan Kejiwaan,, op.cit, hlm. 134

[25] Ibid, hlm. 153-154

[26] Abdul Aziz el-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa Atau Mental, op.cit, hlm. 133-134

[27] Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental: Pokok-pokok Keimanan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), cet. 2, hlm. 12-13

[28]Ibid, hlm. 103-104

[29] Ibid, hlm. 58

[30] Ibid, hlm. 108

[31] Abdul Aziz al-Qudsy, Ilmu Jiwa Prinsip-prinsip dan Implementasinya dalam Pendidikan, op.cit, hlm. 240

[32] Nana Syaodih Sukmadinata, op.cit, hlm. 79

[33] Kebutuhan-kebutuhan mendorong jiwa untuk memberikan respon terbaik guna memperoleh jalan untuk memenuhi kebutuhan tersebut

[34] Jamaluddin Ancok dan Fuad Nashari Suroso, Psikologi islami¸ (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995) cet. 2, hlm. 92

[35] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1983), cet. X, hlm. 13

[36] Ibid, hlm. 14

[37] Abdul Aziz al-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa atau Mental, op.cit, hlm. 39

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Facebook Themes