Tampilkan postingan dengan label Neurotransmitter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Neurotransmitter. Tampilkan semua postingan

Norepinefrin - Noradrenalin | Hormon - Neurotransmitter

Ilustrasi | Google



Adalah hormon dan juga neurotransmitter. Sebagai hormon, norepinefrin disekresikan oleh kelenjar adrenal dan bekerja bersama epinefrin/ adrenalin untuk memberikan energi tubuh tiba-tiba pada saat stress, yang dikenal sebagai respon “melawan". Setiap kali kita melihat atau memvisualisasikan beberapa ancaman, respon stres akan dihasilkan. Sistem saraf kita merangsang respon lari atau melawan.

Jika respon ini akan ditahan untuk jangka waktu yang panjang, sistem adrenal kita rusak menyebabkan kondisi kesehatan yang serius seperti hipertensi, penyakit jantung dan masalah perut.

Setiap kali tubuh kita mengalami stres berlebih, bahan kimia dalam otak kita yaitu. serotonin, dopamin dan noradrenalin, gagal untuk mengirim sinyal positif ke otak. Hal ini dapat menyebabkan gangguan stres pasca-trauma, serangan kecemasan, dan penyakit mental.

Dalam dunia yang sangat kompetitif saat ini, setiap orang harus menghadapi beberapa jumlah stres dan ketegangan setiap hari karena yang frekuensi penyakit mental telah meningkat pesat. Beberapa dekade terakhir telah menyaksikan munculnya beberapa kondisi mental yang serius yang ilmu pengetahuan belum menemukan obat apapun. Artikel berikut akan menjelaskan:
  1. Apa itu Noradrenalin?
  2. Bagaimana cara kerja Noradrenalin?
  3. Apa tindakan pencegahan untuk Noradrenalin?
  4. Apa efek samping dari Noradrenaline?
  5. Apa itu Noradrenalin?

Noradrenalin atau norepinefrin adalah neurotransmitter yang dilepaskan oleh sel-sel saraf. Struktur kimianya serta fungsinya hampir sama dengan adrenalin. Hal ini meningkatkan tekanan darah dengan konstriksi pembuluh darah. Tindakan ini menormalkan detak jantung karena yang bernapas menjadi lebih dalam dan normal.

Kekurangan noradrenalin dapat menyebabkan kelelahan, kelelahan, kelesuan dan sullenness. Tujuan utama dari Noradrenalin adalah untuk menormalkan yang mengancam tekanan darah rendah (hipotensi akut).

Bagaimana cara kerja Noradrenalin?

Noradrenalin meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Hal ini digunakan untuk melebarkan pupil & saluran udara di dalam paru-paru. Noradrenalin mencegah penyempitan pembuluh darah pada organ visceral. Hal ini memungkinkan tubuh untuk melakukan dengan baik dalam situasi stres.

Noradrenalin merangsang jenis reseptor yang dikenal sebagai adrenoseptor, tersebar di seluruh bagian tubuh. Adrenoseptor menyebabkan kontraksi otot dan penyempitan pembuluh darah. Karena penyempitan pembuluh darah, darah kembali diarahkan organ-organ vital seperti jantung dan otak.

Apa tindakan pencegahan untuk Noradrenalin?
  1. Tekanan darah harus dimonitor secara teratur.
  2. Periksa situs infus teratur. Kebocoran di tempat suntikan dapat menyebabkan kematian jaringan di sekitarnya.
  3. Pasien yang menderita angina pektoris, hipoksia, hiperkarbia, trombosis pembuluh darah perifer, trombosis koroner atau trombosis mesenterika perlu disimpan di bawah pengawasan ketat.
  4. Injeksi noradrenalin harus dihindari untuk orang tua.

Apa efek samping dari Noradrenalin?

Efek samping untuk mencari adalah:
  1. Sakit kepala
  2. Hipertensi atau tekanan darah tinggi
  3. Bradikardia atau denyut jantung yang lambat
  4. Suplai darah yang terbatas atau dibatasi yang mengarah ke tingkat oksigen yang rendah dalam jaringan, yang dapat menyebabkan gangreneNoradrenalin
  5. Aritmia dapat terjadi jika obat ini diberikan dengan anestesi umum (siklopropana atau halotan) atau antidepresan trisiklik (amitriptyline).

Mental Disorder | Gangguan dan Kekacauan



Bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental (kesehatan mental) yang terjadi seorang individu. disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme-adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan atau mental terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan, sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur pada satu bagian, satu organ, atau satu sistem kejiwaan.

Mental disorder mempunyai pertanda awal antara lain : perasaan cemas, ketakutan, apatis, cemburu. iri, marah-marah secara eksplosif, antisosial, ketegangan kronis dan lainnya. singkatnya, kekacauan mental merupakan bentuk gangguan pada ketenangan batin dan harmoni dari struktur kepribadian.

Penampilan dari mental disorder itu biasanya berupa gejala-gejala sebagai berikut :
  • Banyak konflik batin. Ada rasa tersobek-sobek oleh pikiran-pikiran dan emosi-emosi yang antagonistis bertentangan. Hilangnya harga diri dan kepercayaan diri. Orang merasa tidak aman, dan selalu diburu-buru oleh suatu pikiran atau perasaan yang tidak jelas, hingga ia merasa cemas dan takut. Dia lalu menjadi agresif, suka menyerang, bahkan ada yang berusaha membunuh orang lain, atau melakukan usaha bunuh diri (agresivitas ke dalam).

  • Komunikasi sosialnya terputus, dan ada disorientasi sosial. Timbul kemudian delusi-delusi (ekspresi kepercayaan yang dimunculkan kedalam kehidupan nyata) yang menakutkan; atau dihinggapi delusi of grandeur (merasa dirinya super, paling). Selalu iri hati dan curiga. Ada kalanya dihinggapi delusion of persecution atau khayalan dikejar-kejar. Sehingga dia menjadi sangat agresif, berusaha melakukan pengrusakan, atau melakukan destruksi-diri dan bunuh diri.Ada pasien yang menjadi hyperaktif, sehingga menggangu sekitarnya; bahkan bisa berbahaya bagi lingkungannya. Pasien lain menjadi catatonic, yaitu kaku membeku; dikombinasikan dengan membisu, dan stupor (separuh sadar, membeku tanpa pengindaraan), sampai menjadi hebefrenic (mental/jiwa menjadi tumpul) atau ketolol-tololan. selanjutnya oleh rasa panik hebat, dia bisa membunuh orang lain atau melakukan bunuh diri.

  • Ada gangguan intelektual dan gangguan emosional yang serius. Penderita mengalami ilusi-ilusi optis (ilusi yang terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia), halusinasi-halusinasi berat dan delusi. 


PSIKOPAT (pribadi yang sosiopatik, pribadi yang anti sosial).

Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.

Gejala-gejala psikopat
  1. Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
  2. Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
  3. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
  4. Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
  5. Sikap antisosial di usia dewasa.
  6. Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
  7. Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
  8. Impulsif (dorongan yang didasarkan keinginan atau untuk pemuasan atau keinginan secara sadar maupun tidak sadar) dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
  9. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
  10. Manipulatif (keinginan untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari hubungan dengan orang lain) dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
  11. Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.

Berbagai teori dikemukakan oleh para peneliti untuk menjelaskan kemungkinan penyebab kepribadian psikopat. Di antaranya teori kelainan struktural otak seperti penurunan intensitas bagian otak di daerah prefrontal grey matter dan penurunan volume otak di bagian posterior hippocampal dan peningkatan intensitas otak bagian callosal white matter. Teori lain adalah gangguan metabolisme serotonin, gangguan fungsi otak dan genetik yang diduga ikut menciptakan karakter monster seorang psikopat.

Mungkin saja tidak ditemukan kerusakan otak pada seorang yang menunjukkan gejala psikopatik, melainkan terdapat anomali dalam caranya memproses informasi. Hal ini pernah dibuktikan dalam penelitian menggunakan MRI melalui pengenalan gambar-gambar kasus bunuh diri yang tidak menyeramkan. Pada orang nonpsikopat terlihat banyak sekali aktivasi di amigdala (suatu area di otak), sedangkan pada psikopat tidak tampak perbedaan sama sekali. Peningkatan aktivitas otak psikopat terjadi di area lain pada otak yaitu area ekstra-limbik. Tampaknya psikopat menganalisis materi emosional di area otak tersebut.


PSIKONEUROSA

HISTERIA 
Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap rangsang- rangsang emosional. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Gejala- gejala sering timbul dan hilang secara tiba-tiba, teruma bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat. 

Jenis-jenis histeria 
  • Histeria digolongkan menjadi 2, yaitu reaksi konversi atau histeria 
  • minor dan reaksi disosiasi atau histeria mayor. 


Histeria minor atau reaksi konversi 

Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi konversi) menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik,dengan gejala : lumpuh kejang-kejang, mati raba, buta, tuli, dst

Histeria mayor atau reaksi disosiasi 

Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang yang alami penderita demikian hebat, sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom, sehingga timbul gejala-gejala : amnesia, somnabulisme, fugue, dan kepribadian ganda. 


Faktor penyebab histeria 

Menurut Sigmund Freud, histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar. Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut. Namun pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja, melainkan ada dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi dalam bentuk gannguan jiwa. 

Terapi terhadap penderita histeria, Ada beberapa teknik terapi yang dapat dilakukan untuk 
menyembuhkan hysteria yaitu : 
  • Teknik hipnosis (pernah diterapkan oleh dr. Joseph Breuer)
  • Teknik asosiasi bebas (dikembangkan oleh Sigmund Freud)
  • Psikoterapi suportif
  • Farmakoterapi.


Bentuk-bentuk dissosiasi kepribadian 

FUGUE (amnesia/kehilangan ingatan)
Fugue disosiatif adalah satu atau lebih episode amnesia di mana ketidakmampuan untuk mengingat beberapa atau semua dari satu masa lalu dan salah satu hilangnya identitas seseorang atau pembentukan identitas baru terjadi dengan tiba-tiba, perjalanan tak terduga, tujuan jauh dari rumah.

Gangguan dominan adalah tiba-tiba, tak terduga perjalanan jauh dari rumah atau seseorang tempat kerja adat, dengan ketidakmampuan untuk mengingat masa lalu seseorang. Kebingungan tentang identitas pribadi atau asumsi identitas baru (sebagian atau lengkap). Gangguan tidak terjadi secara eksklusif selama memisahkan Identity Disorder dan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, penyalahgunaan obat, obat) atau kondisi medis umum (misalnya, epilepsi lobus temporal).

Gejala-gejala klinis yang signifikan menyebabkan distres atau gangguan di daerah penting sosial, pekerjaan, atau fungsi. Seringkali orang tersebut tidak memiliki gejala-gejala atau hanya bingung yang ringan selama fugue tersebut, meskipun begitu, ketika fugue tersebut berakhir, orang tersebut bisa mengalami depresi, tidak nyaman, sedih, malu, konflik hebat, dan kecendrungan untuk bunuh diri atau impuls agresif.

TERAPI

Kebanyakan fugue berlangsung hitungan jam atau harian dan hilang dengan sendirinya. Dissociative fugue diobati lebih banyak seperti dissociative amnesia, dan pengobatan bisa termasuk penggunaan hypnosis atau wawancara obat-difasilitasi. Meskipun begitu, uoaya untuk menyimpan ingatan pada periode fugue biasanya tidak berhasil. Seorang terapis bisa membantu orang tersebut untuk memeriksa pola mereka pada penanganan jenis situasi tersebut, konflik, dan mood yang memicu (precipitated) episode fugue untuk mencegah perilaku fugue berikutnya.

SOMNABULISME (tidur berjalan)

Gangguan tidur Parasomnia (menjelang tidur). Berjalan dalam tidur timbul dari gelombang lambat tahap tidur dalam keadaan kesadaran rendah dan melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan selama keadaan kesadaran penuh. Kegiatan ini dapat sebagai jinak seperti duduk di tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, dan membersihkan, atau berbahaya seperti memasak, mengemudi, sangat gerakan kekerasan, meraih di objek hallucinated, bahkan pembunuhan.

TAHAPAN TIDUR

Tidur dikategorikan ke dalam tahapan siklus antara tidur REM dan tidur NREM. Tidur NREM ini dibagi lagi menjadi empat tahap : tahap 1 (waktu tidur cahaya), tahap 2 (periode tidur konsolidasi), dan tahap 3 dan 4 ( gelombang lambat periode tidur). Pada orang dewasa normal, siklus akan berlangsung sekitar 1,5 jam. Menurut Lavie, Malhotra, dan Pilar, "Panjang dan isi perubahan siklus tidur sepanjang malam serta dengan usia." Sleepwalking umumnya terjadi selama sepertiga pertama dari malam (11:00-1:00). selama tahap tidur NREM gelombang lambat. Tinggi delta aktivitas di dalam otak biasanya menyertai tidur NREM gelombang lambat, dan ketika 20-50% dari seluruh kegiatan adalah aktivitas delta, tahap 3 dinilai. Aktivitas delta mencapai 50% atau lebih tinggi, stadium 4 dinilai. Biasanya, jika sleepwalking terjadi pada semua, hanya akan terjadi sekali dalam satu malam.

Beberapa ahli berteori bahwa perkembangan sleepwalking pada anak adalah karena adanya keterlambatan pematangan. Ada juga tegangan tinggi gelombang delta dalam somnambulists sampai 17 tahun. Kehadiran ini mungkin menyarankan sebuah ketidakdewasaan dalam sistem saraf pusat, juga kemungkinan penyebab sleepwalking. Berjalan dalam tidur yang berkerumun dalam keluarga, dan persentase anak-anak tidur sambil berjalan meningkat menjadi 45% jika salah satu orang tua terkena, dan 60% jika kedua orang tua terkena. Namun, tidak ada preferensi dicatat untuk atau perempuan individu jantan. Dengan demikian, faktor-faktor diwariskan tampaknya mempengaruhi individu untuk mengembangkan tidur sambil berjalan, tetapi ekspresi sifat mungkin juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor pengendapan lainnya untuk berjalan dalam tidur merupakan faktor yang meningkatkan tahap tidur gelombang lambat. Ini paling sering termasuk kurang tidur, demam, dan kelelahan berlebihan. Penggunaan beberapa neuroleptik (Obat anti Psikotik) atau hipnotik (Obat anti Depresi) juga dapat menyebabkan tidur sambil berjalan terjadi.


MULTIPLE PERSONALITY

Mungkin tidak ada orang yang benar-benar bisa memahami masalah kepribadian ganda. Sebelum abad ke-20, gejala psikologi ini selalu dikaitkan dengan kerasukan setan. Namun, para psikolog abad ke-20 yang menolak kaitan itu menyebut fenomena ini dengan sebutan Multiple Personality Disorder (MPD). Berikutnya, ketika nama itu dirasa tidak lagi sesuai, gejala ini diberi nama baru, Dissociative Identity Disorder (DID).

DID atau kepribadian ganda dapat didefinisikan sebagai kelainan mental dimana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian (alter) yang masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda.


Proses terbentuknya kepribadian ganda

Ketika kita dewasa, kita memiliki karakter dan kepribadian yang cukup kuat dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Namun, pada anak yang masih berusia di bawah tujuh tahun, kekuatan itu belum muncul sehingga mereka akan mencari cara lain untuk bertahan terhadap sebuah pengalaman traumatis, yaitu dengan Disosiasi. Dengan menggunakan cara ini, seorang anak dapat membuat pikiran sadarnya terlepas dari pengalaman mengerikan yang menimpanya.

Menurut Colin Ross yang menulis buku The Osiris Complex (1995), proses disosiasi pada anak yang mengarah kepada kelainan DID terdiri dari dua proses psikologis. Kita akan mengambil contoh pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak perempuan. Proses Pertama: anak perempuan yang berulang-ulang mengalami penganiayaan seksual akan berusaha menyangkal pengalaman ini di dalam pikirannya supaya bisa terbebas dari rasa sakit yang luar biasa. Ia bisa mengalami "out of body experience" yang membuat ia "terlepas" dari tubuhnya dan dari pengalaman traumatis yang sedang berlangsung. Ia mungkin bisa merasakan rohnya melayang hingga ke langit-langit dan membayangkan dirinya sedang melihat kepada anak perempuan lain yang sedang mengalami pelecehan seksual. Dengan kata lain, identitas baru yang berbeda telah muncul.

Proses Kedua, sebuah penghalang memori kemudian dibangun antara anak perempuan itu dengan identitas baru yang telah diciptakan. Sekarang, sebuah kesadaran baru telah terbentuk. Pelecehan seksual tersebut tidak pernah terjadi padanya dan ia tidak bisa mengingat apapun mengenainya. Apabila pelecehan seksual terus berlanjut, maka proses ini akan terus berulang sehingga ia akan kembali menciptakan banyak identitas baru untuk mengatasinya. Ketika kebiasaan disosiasi ini telah mendarah daging, sang anak juga akan menciptakan identitas baru untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pengalaman traumatis seperti pergi ke sekolah atau bermain bersama teman.
Salah satu kasus kepribadian ganda yang ternama, yaitu Sybil, disebut memiliki 16 identitas yang berbeda.

Menurut psikolog, jumlah identitas berbeda ini bisa lebih banyak pada beberapa kasus, bahkan hingga mencapai 100. Masing-masing identitas itu memiliki nama, umur, jenis kelamin, ras, gaya, cara berbicara dan karakter yang berbeda. Setiap karakter ini bisa mengambil alih pikiran sang penderita hanya dalam tempo beberapa detik. Proses pengambilalihan ini disebut switching dan biasanya dipicu oleh kondisi stres.

Harus ada dua atau lebih identitas atau kesadaran yang berbeda di dalam diri orang tersebut.
  1. Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut (Switching).
  2. Ada ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya yang terlalu luar biasa untuk dianggap hanya sebagai lupa biasa. 
  3. Gangguan-gangguan yang terjadi ini tidak terjadi karena efek psikologis dari substansi seperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam.

Dari empat poin ini, poin nomor 3 memegang peranan sangat penting.

98 persen mereka yang mengidap DID mengalami amnesia ketika sebuah identitas muncul (switching). Ketika kepribadian utama berhasil mengambil alih kembali, ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi ketika identitas sebelumnya berkuasa. Walaupun sebagian besar psikolog telah mengakui adanya kelainan kepribadian ganda ini, namun sebagian lainnya menolak mengakui keberadaannya. Mereka mengajukan argumennya berdasarkan pada kasus Sybill yang ternama.

Psikastenia
Merupakan tipe psikoneurosa (gangguan syaraf-syaraf kejiwaan) ditandai oleh reaksi-reaksi kecemasan yang diikuti kompulsi, obsesi dan ketegangan-ketegangan fobik (akibat fobia).

Phobia
Rasa ketakutan yang tak terkendali,tidak normal. Kepada sesuatu hal atau kejadian tanpa diketahui sebab-sebabnya.

Obsesi
Merupakan gejala neurosa jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus-menerus, biasanya tentang hal-hal yang tidak menyenangkan, atau sebab-sebabnya tak diketahui oleh penderita. Misalnya selalu berpikir ada orang yang ingin menjatuhkan dia. 

Kompulsi
Adalah tendensi atau keinginan yang tidak dapat dicegah untuk melakukan sesuatu perbuatan, tidak bisa dikontrol, dan tendensi itu tidak bisa dikendalikan dan sewaktu melakukan perbuatan yang sebenarnya sangat bertentangan dengan kemauan yang disadari. Hal tersebut menurut J.P. Chaplin dalam kutipan Kartini Kartono disebut sebagai suatu keadaan psikologis, di mana seseorang bertindak berlawanan dengan kemauannya sendiri atau bertentangan dengan kecenderungan kehendak hati yang disadari´. 

Gejala-gejala kompulsi seseorang tersebut dapat disebabkan oleh berbagai kondisi antara lain: 
  1. Pernah trauma mental, emosional sehingga seseorang mengadakan penekanan pengalaman mental lama ke dalam ketidaksadarannya 
  2. Bisa juga seseorang mengalami konflik serius antara keinginan kuat berbuat, namun berlawanan dengan perasaan-perasaan takut yang serius di dalam diri pada saat yang sama; 
  3. Ada juga akibat dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah mematri yang berlawanan dengan kata hati dan kesadaran diri; 
  4. Bisa juga perbuatan kompulsif merupakan tuntutan pengganti keinginan-keinginan yang ditekan. 


TICS atau gangguan gerak-gerak fasial. Tics motor sederhana meliputi: 
  • hidung kerutan 
  • kepala berkedut 
  • mata berkedip 
  • menggigit bibir 
  • wajah meringis 
  • berulang atau obsesif menyentuh 
  • menendang 
  • melompat 

Tics vokal umum meliputi: 
  • batuk 
  • kliring tenggorokan 
  • dengkur 
  • sniffing 
  • gonggongan 
  • desis 


Hipokondria 
Kecemasan yang berlebihan terhadap satu atau beberapa penyakit. Penderita hipokondria akan selalu menanggapi keluhan-keluhan fisik dengan sangat serius, dan menyimpulkan bahwa dia menderita penyakit tertentu.

Neurasthenia
Adalah penyakit payah. Orang yang diserang akan merasakan diantaranya, seluruh badan letih, tidak bersemangat, lekas merasa payah, walaupun sedikit tenaga yang dikeluarkan. Perasaan tidak enak, sebentar-sebentar ingin marah, menggerutu dan sebagainya. Tidak sanggup berpikir tentang suatu masalah, sukar mengingat dan memusatkan perhatian. Apatis, acu tak acu. Sangat sensitif terhadap cahaya dan suara, sehingga detik jam saja menyebabkan tidak bisa tidur.

Selain gejala tersebut mungkin pula terdapat gejala-gejala tambahan seperti :
  • Tidak adapat tidur, sehingga ia menjadi gelisah. 
  • Kepala selalu pusing, kadang-kadang rasa menekan. 
  • Sering merasa dihinggapi bermacam-macam penyakit, sehingga ia sering memeriksakan dirinya ke dokter. Takut mati, pikirannya selalu diganggu oleh masalah mati dan penyakit.


Penyakit ini disebabkan oleh karena terlalu lama menekan perasaan, pertentangan batin, kecemasan, terhalangnya keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan. Selain itu terlalu banyak mengalami kegagalan hidup, semua itu menyebabkan kegelisahan dan tertekannya perasaan.

Neurosis Kecemasan
Adalah gejala paling umum terjadi antara individu-individu psikoneurosis kecerdasan rata-rata di atas. Ross telah mendefinisikan itu, sebagai suatu gejala yang timbul dari adaptasi yang rusak oleh tekanan dan ketegangan hidup. Hal ini disebabkan oleh lebih dari tindakan dalam upaya untuk memenuhi kesulitan.

Gejala neurosis Kecemasan 
Umumnya memiliki sensasi menyedihkan dari kurungan atau menjadi berpagar dalam perasaan tak berdaya terkena beberapa ancaman tak tentu, kerusuhan mental dan ketegangan, adalah fitur dari kecemasan. Tanda-tanda vegetatif :
  • pelebaran murid
  • wajah pucat
  • batas-batas berkeringat
  • kekeringan pada mulut
  • diare
  • kehilangan nafsu makan
  • insomnia
  • penurunan libido 
  • dan potensi peningkatan tekanan darah, tingkat gula darah dll menyertai sindrom kecemasan. 


Penyebab neurosis Kecemasan 
Menurut Freud, ketika seseorang libidonya sedang memuncak tetapi tidak menemukan penyaluran kepuasan yang tepat maka dia juga bisa terserang kecemasan yang kadang tidak beralasan. Konflik emosional: Menurut McDougall dan Gardon, neurosis kecemasan dapat timbul sebagai akibat konflik antara dua emosi. 

Represi dari kecenderungan menonjolkan diri: Menurut Adler, impuls manusia yang paling penting dan paling kuat adalah untuk menegaskan dirinya sendiri. Jika ego orang-orang yang tidak berkembang dengan baik dan dia malah mengembangkan rasa rendah diri maka dirinya dengan tegas adalah ditekan, dan ini menyebabkan pengembangan neurosis kecemasan. 

Konflik Mental dan Frustrasi: Menurut O'Kelly, akar penyebab neurosis kecemasan adalah konflik mental dan frustrasi. Apapun penyebab neurosis kecemasan dapat dikatakan, untuk menjelaskan secara penuh dalam kasus pasien apapun dan kebenaran adalah bahwa dalam keadaan tertentu satu atau lebih bahkan semua penyebab ini dapat hadir pada akar neurosis kecemasan. 

Fakta dan Tips tentang Anxiety Neurosis 
  • Kegelisahan neurosis ditandai ke situtation psikiatri di mana gangguan emosi atau konflik tak sadar diekspresikan melalui jenis gangguan fisik, psikologis dan mental. 
  • Penderita neurosis kecemasan ingin mendapatkan yang lebih baik tetapi tidak dapat menemukan keterampilan berupaya untuk menciptakan kehidupan, lebih kaya lebih bermakna. 
  • Kecemasan menyebabkan gangguan panik, seseorang menderita serangan teror singkat intens dan ketakutan, sering ditandai dengan gemetar, gemetar, kebingungan, pusing, mual, kesulitan bernafas. 
  • Kegelisahan datang ke kelas fungsional, termasuk gangguan mental tertekan namun tidak halusinasi delusionsor, di mana perilaku tidak luar kondisi sosial diterima. Hal ini juga disebut psikoneurosis atau gangguan neurotik. 
  • konseling yang tepat, meditasi ringan dan realisasi diri dapat membantu dalam mengobati Neurosis Kecemasan. 


Psikosomatisme
Kondisi di mana sejumlah konflik psikis atau psikologis dan kecemasan menjadi sebab dari timbulnya macam-macam penyakit jasmaniah atau justru membuat semakin parahnya suatu penyakit jasmaniah yang sudah ada. Penyakit-penyakit yang biasa di derita akibat psikosomatisme:
  • Hypertension dan effort syndrome (Darah Tinggi)
  • Peptic ulcer (Radang Lambung)


Psikosa fungsional/psikosis
Penyakit mental yang parah, dengan ciri khas adanya disorganisasi proses berfikir, gangguan emosional, disorientasi waktu, ruang dan person dan beberapa kasus disertai halusinasi dan delusi. Psikosa fungsional merupakan penyakit mental secara fungsional yang berat dan non-organik sifatnya, ditandai oleh disentegrasi kepecahan kepribadian dan maladjustment sosial yang berat orangnya tidak mampu mengadakan relasi dengan dunia luar, sering sering terputus sama sekali dengan realitas hidup, lalu menjadi inkom peten secara sosial.

Macam-macamnya Psikosa Fungsional:

Shizofrenia Adalah nama umum untuk sekelompok reaksi-reaksi psikotis. Dicirikan oleh penarikan diri, gangguan/kekacauan pada kehidupan emosinal dan efiktif, disertai halusinasi dan delusi-delusi, tingkah laku negatifitas dan kerusakan/kemunduran jiwani yang progresif. Sizoferenia juga merupakan bentuk kegilaan dengan disentegrasi pribadi, tingkah laku emosional dan intelektual yang ambigious dan terganggu secara serius.

Macam-macam Shizofrenia adalah:

SCHIZOFRENIA HEBEFRENIC (penumpulan mental atau jiwa) Ciri-ciri schizofrenia hebefrenik ialah : 
  • Reaksi sikap dan tingkah laku yang kegila-gilaan, suka tertwa, mudah tersinggung dan mengakibatkan kemarahan. 
  • Pikiran selalu melantur, berhalusinasi, dan sering berlagak sok dan ada regresi.
  • Terjadi regresi degenerasi secara total dan kekanak-kanakan.


SCHIZOFRENIA CATATONIC (kaku tertahan-tahan) ciri-ciri shizofrenia jenis ini adalah: 
  • Urat-uratnya jadi kaku, yaitu badan jadi kaku seperti malam, cendrung kearah negativisme ekstrim.
  • Sering mengalami catdlepsy, yaitu dalam tidak sadar seperti kondisi trance; seluruh badannya jadi kaku, tidak pejal dan tidak bisa membengkokkan.


SCHIZOFRENIA PARANOID ciri-ciri schizofrenia jenis ini adalah:
  • Penderita diliputi maca-macam delusi dan halusinasiyang terus-menerus berganti coraknya dan tidak beratur sifatnya.
  • Emosi pada umumnya beku dan sangat apatis.


Manis Depresif
bentuk ketakutan/atau penyakit mental serius berupa gangguan emosioanal dan suasana ekstrim, yang terus-menerus bergerak gembira-ria, tertawa-tawa/elation, sampai pada rasa depresi, sedih, putus asa.

Psikosa pranoia 
Gangguan mental amat serius, dicrikan dengan timbulnya banyak delusi penyiksaan (delusion of persecution) atau delusi besaran yang “disistematiskan” dengan kemerosotan jiwan ringan dan ide fixed yang kaku dan salah.
  • Agresi adalah kemarahan yang meluap-luap dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.
  • Regresi ialah prilaku yang surut kembali pada pola-reaksi atau tingkat perkembangan yang premitif, yang tidak adekuat, pada pola tingkah laku kekanak-kanakan, infatil, dan tidak sesuai tingkat usianya.

Psikoterapi
pilihan utama bagi banyak gangguan mental adalah psikoterapi. 
ada beberapa jenis psikoterapi : 
  • okognitif terapi perilaku (CBT) : secara luas digunakan dan didasarkan pada memodifikasi pola-pola pemikiran dan perilaku berkaitan dengan gangguan tertentu.
  • opsikoanalisi : menangani konflik psikis yang mendasarinya.
  • osistemik terapi atau terapi keluarga : menangani jaringan orang lain.


Pilihan utama bagi banyak gangguan mental adalah obat psikiatris. ada beberapa jenis pengobatan :
  • antidpresan :digunakan untuk pengobatan dpresi klinis serta sering untuk kecemasan dan gangguan lain.
  • anxiolytics : digunakan untuk gangguan kecemasan dan masalah-masalah terkait seperti insomnia.
  • mood stabilizer : digunakan terutama dalam gangguan bipolar.
  • antipsikotik : digunakan untuk gangguan psikotik, khususnya untuk gejala positif skizofrenia.
  • stimulan : umum digunakan, terutama untuk ADHD.

Brain Death | Mati Otak





dr Abdul lian SpAn KNA
Bagian Anestesiologi Faked Undip Semarang

Brain | Otak orang dewasa yang beratnya 2% dari berat badan,dilayani sirkulasi darah 15% dari kardiak output dan membutuhkan oksigen 20% dari konsumsi oksigen seluruh tubuh atau lebih kurang 3,3 ml O2 /100 gram otak menit yang dikenal dengan istilah laju metabolik otak untuk O2(CMRO2) dimana (55-60)% nya digunakan untuk mempertahankan intergritas seratus milyard neuron otak berupa homeostasis,mempertahankan perbedaan ion,stablitas membran, aktifitas mitokondria dan pengeluaran CO2,sementara (40-45)% nya digunakan untuk fungsi neuron berupa pembentukan dan penghantaran impuls. Tergantung pada aliran darah otak(CBF),oksigen dan glukose.

Sumber energi otak sebagian besar diperoleh dari glukose sedangkan sumber yang lain ialah hidroksi butirat dan aceto asetat.Ketidak mampuan perfusi otak karena penurunan CBF dibawah kritis untuk memenuhi pasokan oksigen dan nutrien yang diperlukan untuk pemeliharaan intregritas metabolisme dan fungsi neuron yang merupakan dasar kerusakan otak yang dikenal dengan iskemia cerebri dengan konsekwensi mulai dari transsient ischemic attack( TIA) sampai terjadi mati otak.

Penurunan CMRO2 sampai 2,0 cc/100 gram otak/menit  berakibat koma sedangkan penurunan CMRO2 sampai dibawah sepertiga normal bisa menyebabkan brain stem death (mati batang otak).

Yang termasuk batang otak adalah medulla oblongata,pons,thalamus,hipothalamus,retikular aktivating system,basal ganglia,limbik system tetapi yang utama adalah medulla oblongata dan pons dimana terletak pusat
pernafasan dan sirkulasi, kesadaran dan nukeus syaraf kranial.

MATI BATANG OTAK (MBO):
Yang dimaksud mati dewasa ini adalah mati batang otak walaupun jantung masih berdenyut dan respirasi dengan ventilator masih dipertahankan.

Dahulu definisi kematian adalah apnoe(henti nafas) dan circulatory arrest(henti sirkulasi) dimana aktivitas cerebral terhenti sebentar (reversible) masih mungkin dilakukan cardiopulmonary dan brain resusitasi kemungkinan fungsi otak kembali normal, kematian seperti ini disebut Clinical death(mati klinis).

Bila mati klinis berlanjut tanpa resusitasi akan terjadi nekrosis seluruh jaringan tubuh dimulai dari otak, disebut biological death (mati biologis).

Sedangkan sosial death (mati sosial) (persistent vegetative state)(sindroma apalika) menggambarkan kerusakan otak yang irreversible dimana pasien tetap tak sadar /tidak responsif tetapi mempunyai EEG yang masih aktif dan beberapa reflek masih utuh.

Cerebral death (mati cerebral) dimana cerebrum mengalami nekrosis terutama neocortical. Brain death (total brain death)(mati otak total) adalah mati cerebral dengan nekrosis sisa otak lainnya (cerebellum,midbrain dan brain stem).(otak kecil,otak tengah dan batang otak). Harus dibedakan brain death dengan severe neurological dysfunction dimana masih ada menetap sedikit aktifitas otak,biasanya kita bagi dua golongan:

1. Locked in Syndrome (paralytic akinesia) (cerebrospinal dysconection)
    Dalam keadaan ini :
  • Mental awareness(+)
  • Cranial nerve dysfunction (+)
  • Voluntary muscle movement (-)

umpama : lesi medulla-pontine.
               
2. Apalic syndrome :
  • Depressi awareness yang dalam depressi EEG sampai isoelektrik.
  • Fungsi brainstem masih berlangsung atau bisa ditimbulkan.

Untuk itu baik fungsi cortical maupun brainstem harus diteliti dengan kriteria yang ditetapkan dalam menentukan brain death. Yaitu yang ditetapkan oleh Presbyterian University Hospital Pittsburg. Kriteria untuk menentukan diagnosis MBO (mati batang otak). Pasien yang diobservasi harus di rumah sakit, dengan dua kali pemeriksaan. Klinik dimana jarak (interval) kedua pemeriksaan tidak kurang dari dua jam dilakukan oleh minimal 2 ahli yang mendapat kompetensi (neurologist,neuro surgeon atau intensivist) bersama atau terpisah.

  • Koma dengan sebab yang ditetapkan,dan tidak adanya induced hipotermia dan obat-obat yang bersifat depressant. Jika ada indikasi pemeriksaan ethanol darah, dan toksikologi harus dilakukan dan temperatur tubuh juga dicatat.
  • Tidak dijumpai gerakan otot spontan,tanda-tanda sikap abnormal (decerebrasi&decorticasi) atau menggigil dalam keadaan tanpa muscle relaxant (pelemas otot) atau obat sedatif.
  • Cranial reflexes & responses:(minimal lima reflex negatif).

  1. Tak ada respons reflex cahaya pupil ini disamarkan oleh obat antikolenergik.
  2. Tak ada cornea reflex.
  3. Tak ada respons terhadap stimulus sakit yang hebat seperti tekanan pada supra orbital.
  4. Tak ada respons terhadap stimulus jalan nafas bagian  atas dan bawah umpama pharyngeal atau penghisapan endotracheal.
  5. Tak ada respons okular bila telinga diirigasi dengn 50 cc air es (tak ada gerakan mata)(reflexoculovestibular). Hal ini bisa disamarkan oleh obat ototoksik,penekan vestibular.
  6. Tak ada gerakan bola mata bila kepala diputar(reflex oculocephalic).

  • Tak ada gerakan nafas spontan selama tiga menit bila ventilator dilepas dan PaCO2 > 50 Torr pada akhir test apnoe dalam hal ini tanpa pelemas otot, tak dilakukan bila ICP tinggi. Jika pada riwayat penyakit pasien mempunyai keter gantungan pada stimulus hipoksia untuk pernafasan  umpama pada penderita COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Diseases) maka PaO2 pada akhir test harus < 50 Torr. Jadi dicatat PaO2 dan PaCO2 pada akhir test apnoe.


Test apnoe :
  1. Pre oksigenasi selama 10 menit dengan O2 100% untuk  mencegah hipoksia.
  2. Beri CO2 5% dalam 95% selama 5 menit berikutnya untuk menjamin PaCO2 awal 40 torr.
  3. Ventilator dilepas, insuflasi O2 6L/menit via kateter lewat karina selama sepuluh menit,untuk mencegah hipoksia, agar tak terjadi kerusakan organ. 
  4. Test ini diulang dengan selang waktu 25- 40 menit, untuk mencegah kesalahan pengamatan.


  • Gambaran EEG yang isoelektris : Dengan minimal tehnik pencatatan yang telah ditetapkan bisa terjadi atas pengaruh sedatif encepfalitis,trauma otak atau anoksia atau hipotermia yang dalam.
  • Kegagalan menaikkan heart rate (kecepatan denyut jantung) dengan pemberian 1-2 miligram Sulfas atropin intra vena setelah lima menit atau kenaikan tak lebih 5x/menit.

Penetapan diagmosis MBO perlu untuk menentukan sikap kita dalam mempertahankan atau mengakhiri tindakan resusitasi gawat darurat. Bila diagnose MBO sudah pasti maka pasien dinyatakan meninggal dengan sertifikat kematian. Walau jantung masih berdenyut, tidak diperlukan persetujuan keluarga untuk membuat sertifikasi kematian.

Tetapi bila pasien telah menyatakan dirinya sebagai donor organ sebelum kematiannya maka setelah onset braindeath resusitasi terus dilakukan sampai organ tubuh pasien dikeluarkan untuk mempertahankan keawetan organ, tetapi kontra indikasi bila dijumpai beberapa keadaan tertentu, dibahas dalam management resusitasi untuk transplantasi organ.

Setelah MBO cardiac death (mati jantung) sekunder biasanya terjadi setelah 72 jam sejak MBO tetapi kadang kadang walau jarang bisa sampai satu bulan. Ini karena merupakan efektor autonom yang bekerja tanpa pengaruh syaraf pusat dalam waktu terbatas. Sikap kita ventilator dihentikan biarkan saja sampai circulasi berhenti sendiri.

Mati jantung adalah henti jantung yang irreversible dimana EKG isoelektris selama minimal 30 menit, (intractable electric asystole) walaupun terapi CPR telah optimal. Tidak ada pulsasi tetapi ada EKG complex (mechanical asystole tanpa electric asistole) bukanlah tanda irreversibelity cardiac. Selama aktifitas EKG berlangsung kita harus bersikap bahwa masih ada waktu untuk memulihkan circulasi spontan. Sebenarnya aktifitas EKG bisa berlangsung setelah beberapa menit terjadi henti jantung tanpa resusitasi atau berjam-jam selama CPR dilakukan.

Selama CPR dengan dada tertutup tanpa monitoring EKG tak bisa dibuktikan adanya henti jantung yang irreversible oleh karena ventrikel fibrilasi mungkin ada dan ventrikel fibrilasi selalu mungkin reversible. Ada beberapa kasus ventrikel fibrilasi setelah CPR berjam-jam disertai defibrilasi pulih kembali kesadarannya.

Bila telah dilakukan CPR ditemukan sirkulasi spontan,reaksi pupil positif respirasi spontan, gerakan spontan ini menunjukkan adanya oksigenasi serebral. Bila pupil tetap dilatasi tanpa reaksi,tanpa respirasi spontan selama 1-2 jam,walaupun sirkulasi spontan sudah dicapai, ini menunjukkan kerusakan otak yang hebat walaupun tidak selalu disertai mati batang otak. Perlu diketahui pupil dilatasi /fixed bisa dijumpai diluar mati otak yaitu kontussio serebri,perdarahan intra kranial,pemberian katekolamin waktu resusitasi atau overdosis obat-obat hipnotik.

Secara kasar pasien yang sadar dalam waktu sepuluh menit sesudah sirkulasi spontan akan pulih kembali dengan fungsi otak yang normal,tetapi setelah 6-12 jam sejak sirkulasi spontan dilakukan penekanan yang kuat pada sudut mandibula, tanpa respons nyeri, tanpa Doll eyes,biasanya pasien akan menderita kerusakan otak yang permanent (Bates).

Bila fasilitas EEG,monitor gas darah tak ada maka angiografi karotid yang menunjukkan tidak ada flow intrakranial alternatif yang dapat diterima sebagai bukti adanya MBO. Pada tahun 1988 IDI mengeluarkan pernyataan berkaitan kapan seorang dinyatakan mati.
  • Bila pernafasan spontan dan jantung telah pasti berhenti,setelah dilakukan CPR optimal.
  • Bila telah dipastikan terjadi MBO, tetapi pada CPR darurat dimana tidak mungkin menentukan MBO



Maka seorang dapat dinyatakan mati bila :
  1. Ditemukan tanda-tanda mati jantung.
  2. Setelah dimulai CPR pasien tetap tidak sadar, tidak muncul nafas spontan, reflex muntah negatif serta pupil tetap dilatasi,selama lebih 30 menit kecuali pasien hipotermik atau dibawah pengaruh barbiturat atau anestesi umum.

Check list untuk diagnose klinis dari brain death menurut Medical Center of Pittsburgh University dalam menerbitkan sertifikasi kematian :

Tidak adanya cofounding factors :
  • Tekanan darah sistolik > 90 mmHg tanpa vasopressor dan perfusi perifer adekuat.
  • Suhu tubuh > 32 derajat C dibawah 32 C EEG bisa isoelektris.
  • Tanpa obat mendepressi CNS (anestetik,narkotik,sedatif,alkohol). Kadar sedatif tidak > subterapetik, kadar alkohol tak >= 100 mg%. Bila curiga lakukan test toksikologi. Tak menggunakan pelemas otot, bisa membuat apnoe atau gerakan(-). 
  • Tidak ada uremia,meningo ensefalopati,hepato ensefalopati atau metaboilik ensefalopati bila ada harus diambil EEG untuk menentukan brain death.


Absen fungsi serebral dan batang otak
  1. Tak ada reflex batang otak termasuk test apnoe.
  2. Tak ada responsivity dan reseptivity dari serebral.
  3. Tak respons terhadap stimulus nyeri (penekanan supra orbital).
  4. Tak ada gerakan otot spontan, deserebrate rigidity atau decorticasi atau kejang.
  5. Tak ada reflex cahaya pupil(fixed)(paling penting) (takperlu dilatasi atau equal)
  6. Tak ada reflex kornea (kelemahan facial sebelumnya bisa bikin reflex kornea negatif).
  7. Tidak ada reflek batuk dan menelan (tak respons terhadap stimulus jalan nafas atas dan bawah) dengan menyedot faring atau trakea, via pipa trakeal. (test n.vagus dan glossopharyngeal).
  8. Tak ada reflex okulosefalik dengan memutar kepala arah kesisi kontralateral tidak ada gerakan bola mata, tak boleh dilakukan pada fractur cervical.
  9. Tak ada reflex okulo vestibular (meninggikan kepala 30 derajat, lakukan irigasi 50 cc air es kedalam saluran telinga luar tidak ada gerakan bola mata boneka.(test labirinth)
  10. Tidak ada peningkatan denyut jantung kalaupun ada tak lebih dari lima kali permenit sesudah 5 menit diberikan 0,04 mg/kg atropin iv. Sebagai tes fungsi n vagus dimana atropin sebagai vagolitik. Dicatat denyut jantung sebelum dan sesudah test atropin.
  11. Apnoe pada saat PaCO2 > 60 mmHg merupakan stimulus paling kuat untuk merangsang pusat nafas minimal 30 detik. Dicatat PaCO2 dan PaO2 pada akhir test apnoe.

Test untuk mengkonfirmasi diagnose brain death (confirmatory test) evaluasi fungsi neuron atau sirkulasi darah intra kranial.
  • EEG adanya elektro serebral silence, lebih dari 30 menit. Test ini dilakukan bila ada encefalopati, penyebab koma tidak tahu atau global iskemia sudah berlangsung 24 jam atau paling sedikit satu pemeriksaan tidak dilakukan atau test apnoe tidak bisa dilakukan takut terjadi henti jantung.
  • Cerebral arteriografi (4 pembuluh darah serebral) tidak dijumpai sirkulasi darah intrakranial, test ini dilakukan kalau pasien hipotermia berat,mendapat  CNS depressant, alkohol atau pelemas otot.


Semua hasil pemeriksaan telah memenuhi kriteria MBO walaupun jantung masih berdenyut.

Sertifikasi kematian :                       

Setelah mempertimbangkan hal-hal diatas dengan ini kami menyatakan kematian atas nama,jenis kelamin,umur,dan alamat,tanggal dan jam meninggal,ditanda tangani oleh dua orang dokter. Langkah selanjutnya memberi tahu keluarganya akan dihentikan bantuan hidup yang ujungnya sia-sia bukan berarti membiarkan mati.

Bila keluarga sudah menerima tentang kematian otak maka ventilator,monitor dan infus di stop,dilakukan oleh petugas yang merawat, biarkan sampai jantung berhenti sendiri.
Bila akan dilakukan transplantasi organ minta persetujuan tertulis dari keluarga. 
Bila setuju maka teruskan bantuan utama untuk mencegah injury organ.

Kontroversi MBO :                                  

Ada bukti-bukti menunjukkan residual neuron function yang bisa bertahan walaupun telah dinyatakan semua kriteria telah dipenuhi untuk diagnose MBO. Termasuk berlanjutnya produksi hormon hipofise/hipotalamus dan bertahannya suhu tubuh tetap normal walaupun pada angiografi 4 pembuluh darah serebral tidak ada tanda-tanda sirkulasi intrakranial. Masih ada spontanous depolarisation bisa ditest dengan menempatkan elektrode lebih dalam meskipun EEG cortex isoelectric silence.

Adanya enviromental responsiveness dibuktikan dengan naiknya tekanan darah dan kecepatan denyut jantung sebagai respons pembedahan selama organ procurement diduga respons terhadap stimulus komponen extra kranial dari ANS. Namun hal ini bisa terjadi sebab definisi MBO adalah hilangnya permanent semua fungsi neuron terpadu bukan kematian semua cell.

Ringkasan :

Kriteria MBO yang digunakan sejak 1968 di Universitas Pittsburgh termasuk ketiadaan total, aktivitas serebrum dan batang otak pada dua pemeriksaan klinis dengan interval minimal dua jam,tanpa depresan CNS,pelumpuh otot dan hipotermi. Diantara dua pemeriksaan klinis dilakukan perekaman EEG dengan atau tanpa stimulasi suara,dengan pembesaran dua mikrovolt per mm menunjukkan rekaman isoelektrik selama minimal 30 menit. Tidak terdapatnya pernafasan spontan selama 3 menit dimana PaCO2 harus >50 torr untuk penderita COPD yang memerlukan hipoksia untuk pernafasan maka PaO2<50 torr untuk ini perlu analisa gas darah. Reflex dan respons saraf otak termasuk reflex pupil harus tak ada. Laju jantung tak boleh meningkat selama pemberian atropin iv. Semua aktivitas batang otak tidak ada kecuali aktivitas sumsum tulang karena neuron sumsum tulang belakang masih hidup setelah mati otak.

Bila fasilitas EEG atau BGA tidak ada, maka angiografi untuk memastikan tidak ada perfusi intrakranial sebagai alternatif. Namun bila pemeriksaan laboratorium juga tak ada maka pemeriksaan klinis saja mencukupi. Persetujuan keluarga tidak perlu untuk sertifikasi mati otak dan dua dokter minimal menanda-tangani sertifikat kematian pasien.


KEPUSTAKAAN :
  1. Safar Pieter; Cardiopulmonary Cerebral Resuscitation, Published by Asmund S.Laerdal, Stavanger,Norway, 1984.
  2. Albin,Maurice : Brain death and vegetative state;Text Book of Neuroanesthesia with neurosurgical and Neuroscienceperspective, The MC Graw Hill Company, Newyork, Sanfransisco, Toronto, Sydney, 1977
  3. GurningEJK; Brainstem death and Management of organ Donor, Text Book of Neuro anesthesia and Critical Care, edited by Menon K, Matta F. Greenwich Medical Media Ltd., London.2000.
  4. Grenvik et all; Cessation of theraphy in terminal illness and braindeath; Critical Care Medicine vol.6 no.4 Augt,1978.
  5. Pernyataan IDI tentang mati, Cermin Dunia Kedokteran, no.57,1989.
  6. Safar P, Resusitasi paru jantung otak,terjemahan IAAI Jakarta,Agustus,1984.

Mental Health | Kesehatan Jiwa






Dalam bahasa inggris mental yang sehat disebut mental health. Dan dalam bahas latin kata mental disebut mens atau mentis yang artinya jiwa, nyawa, sukma, roh, dan semangat.[1] Dalam Bahasa Indonesia kata mental diartikan dengan “batin dan watak manusia yang bukan bersifat badan atau tenaga”.[2] Sedangkan kata kesehatan berasal dari kata dasar “sehat” yang berarti “baik atau dalam keadaan normal”.[3], yang merupakan lawan dari kata sakit atau keadaan abnormal.

Terdapat beragam pemaknaan untuk merumuskan kesehatan mental sebagai kondisi kejiwaan dari para ahli psikologi, diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Musthofa Fahmi: kesehatan jiwa atau mental adalah bebas dari gejala dan gangguan kejiwaan (kegoncangan jiwa).[4]
  • Karl Menninger: Kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum, yang meliputi kemampuan menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain dan sikap hidup yang bahagia.[5]
  • Syamsu Yusuf: kesehatan mental adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan perkembangan orang lain.[6]
  • Zakiah Daradjat: kesehatan mental adalah keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan lingkungannya berlandaskan keimanan dan ketakwaan untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.[7]
  • Abdul Aziz el-Qudsy: kesehatan mental adalah keserasian yang sempurna (integrasi) antara fungsi-fungsi jiwa yang bermacam-macam disertai kemampuan untuk menghadapi kegoncangan-kegoncangan jiwa yang ringan disamping secara positif dapat merasakan kebahagiaan dan kemampuan.[8]
  • Yahya Jaya: dari segi agama kesehatan mental adalah keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME.[9]


Berdasarkan rumusan-rumusan di atas maka kesehatan mental yang dimaksud disini adalah kondisi mental yang sehat (mental health) yaitu adanya keserasian yang sungguh-sungguh antara f ungsi-fungsi jiwa, terbebas dari segala goncangan jiwa yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang (yang selaras dengan perkembangan orang lain), berdasarkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Indikator Mental Yang Sehat (Mental Health).

Mental atau jiwa manusia adalah hal-hal yang abstrak dan sulit diamati dari luar, untuk bisa merumuskan tolak ukur kesehatannya perlu dilakukan perbandingan terlebih dahulu dengan hal yang sifatnya konkret yang juga terdapat pada manusia seperti badan atau jasmaninya.

Seseorang dikatakan memiliki jasmani yang sehat apabila terdapat keserasian yang sempurna antara fungsi-fungsi jasmani yang bermacam-macam yang disertai kemampuan untuk menghadapi kesukaran-kesukaran yang biasa terjadi dan secara positif merasa kuat, gesit dan bersemangat.[10]

Dalam pengertian ini jasmani yang sehat ditandai dengan adanya koordinasi yang sungguh-sungguh antara anggota tubuh. Sehingga masing-masing bisa berfungsi sebagaimana mestinya dan adanya kemampuan tubuh untuk menghadapi perubahan-perubahan yang biasa terjadi pada lingkungan, seperti naiknya suhu tubuh dan kinerja jantung ketika terjadi perubahan suhu udara atau serbuan sel-sel darah putih ketika terjadi luka. Hal ini memungkinkan tubuh untuk bisa menangkal penyakit-penyakit yang ringan sehingga tubuh merasa sehat, segar, kuat, dan bersemangat.

Berdasarkan tolak ukur jasmani yang sehat tersebut maka dapat dirumuskan bahwa mental yang sehat tolak ukurnya adalah keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa yang disertai kemampuan jiwa untuk menghadapi kegoncangan-kegoncangan jiwa yang ringan serta secara positif merasakan kebahagiaan dan kemampuan.[11]

Selain itu tolak ukur yang tidak kalah penting dikemukakan oleh Zakiah Daradjat bahwa mental yang sehat adalah yang beriman kepada Tuhan YME, atau memiliki keyakinan beragama.[12]

Adapun penjelasan indikator-indikator ini adalah sebagai berikut:

Keserasian Fungsi–fungsi Jiwa

Keserasian fungsi-fungsi jiwa merupakan bentuk keseimbangan antara berbagai potensi jiwa sehingga jiwa atau mental (secara keseluruhan) dapat terbebas dari goncangan akibat ketidakserasian yang sering terjadi. Fungsi-fungsi jiwa tersebut meliputi pikiran, perasaan, dan kemauan (dorongan).[13] Fungsi-fungsi ini disebut pula dengan fungsi penyesuaian diri.

(*) Pikiran
Banyak yang menduga bahwa pikiran tempatnya di otak, sedangkan hati (kalbu) tempatnya di jantung. Hal ini tidak dibenarkan karena pikiran dan hati (kalbu) adalah sesuatu yang abstrak yang berada pada jiwa manusia dan bukan merupakan organ tubuh. Pikiran tidak berupa materi tetapi merupakan energi yang bermagnet kuat yang bisa mempengaruhi apa saja, orang, binatang, tumbuhan, bahkan benda.[14]

Pikiran adalah “hasil pekerjaan akal, bisa berupa bahan yang masuk dan diolah akal (dipikirkan melalui proses berfikir) maupun berupa buah karya akal.[15] Berfikir merupakan kemampuan untuk meletakkan hubungan dari bagian-bagian pengetahuan proses atau jalannya berfikir dimulai dari pembentukan pengertian kemudian pembentukan pendapat dan terakhir adalah penarikan kesimpulan.[16] Proses berfikir biasanya dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas tertentu yang masuk ke akal untuk dicarikan solusi atau penyelesaiannya dengan diorientasikan pada kenyataan.[17] Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, terdapat dua bentuk kemampuan pikiran sebagai buah karya akal yaitu pikiran positif dan negatif. Pikiran positif (baik) akan mendorong individunya untuk berbuat baik demikian pula sebaliknya. Pikiran biasanya disalurkan melalui perkataan kemudian di tindak lanjuti melalui perbuatan. Namun pikiran juga bisa tidak disalurkan melalui dua cara tersebut tetapi melalui getaran-getaran tak terlihat yang bisa mempengaruhi makhluk lainnya. Pengaruh pikiran ini biasanya disebut sugesti.[18]

Dilihat dari sifatnya pikiran juga bisa dibedakan menjadi pikiran yang kuat dan yang lemah. Pikiran kuat akan dapat meminimalkan pengaruh sugesti dari luar sehingga kondisinya lebih stabil, sedangkan pikiran lemah merupakan kebalikannya, lebih mudah terpengaruh sugesti luar dan labil.
Pikiran yang menjadi bagian dari mental yang sehat adalah pikiran yang positif dan kuat (konsentrasi tinggi, optimistis, realistis, tanpa adanya fantasi dan angan-angan yang berlebihan). Sehingga mampu memaksimalkan kemampuannya dalam proses berfikir yaitu mampu berfikir secara mendalam dengan wawasan tajam dan jernih serta menggunakan akal budi dan kebijaksanaan hingga tersusun reorganisasi dari aktivitas-aktivitasnya.

(**) Perasaan
Perasan merupakan suasana batin yang dihayati seseorang pada suatu saat yang tidak banyak melibatkan aspek-aspek fisik karena sifatnya yang tenang dan tertutup.[19] Perasaan (kesadaran) adalah fungsi mental terpenting karena mental bisa dipelajari melalui perasaan.[20] Perasaan bergerak dari ujung paling positif yaitu sangat senang sampai ujung paling negatif yaitu sangat tidak senang yang terlebih dahulu diawali dengan proses pengenalan.[21]

Perasaan sifatnya subyektif. Perasan satu orang akan berbeda dengan perasaan yang lainnya walaupun obyek yang dihadapi sama. Apa yang dirasa menyenangkan bagi seseorang belum tentu dirasakan sama oleh yang lain. Selain itu sifatnya juga temporer (tidak menetap), sesuatu yang dirasa enak dan menyenangkan pada suatu saat belum tentu dirasakan sama pada saat yang lain.

Perasaan berkembang bersama dengan individu dan pengalamannya. Semakin dewasa dan luas pengalaman seseorang akan semakin luas pula ruang lingkup perasaan dan kecenderungannya.[22] Perasaan pada waktu kanak-kanak hanya terdiri atas sejumlah kecil pengenalan peradaban sederhana secara kasar, kemudian perasaan tersebut tumbuh seiring dengan pertambahan usia (kematangan) dan pengalamannya. Perasaan akan terus bertambah kuantitas perasan bisa menjadi sangat banyak.

Biarpun kuantitasnya banyak dan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya, tetapi secara umum perasaan dapat dibedakan menjadi dua yaitu perasan indriah dan rohaniah. Perasaan jasmaniah berkaitan dengan keadaan jasmani seperti, rasa asin, pahit, sehat, letih, lapar, haus dan yang lainnya. Sedangkan perasaan rohaniah berkaitan dengan perasaan jiwa yang lebih abstrak seperti rasa harga diri, rasa keindahan, kesusilaan, rasa sosial, dan masih banyak yang lainnya.[23]

Perasaan-perasaan tersebut bisa bersifat konstruktif (membangun) dan bisa bersifat destruktif (merusak). Perasaan gembira (senang) cenderung konstruktif, sedangkan perasaan sedih cenderung destruktif (melemahkan). Perasaan akan memberikan pengaruh kuat terhadap pikiran, kemauan, dan perbuatan.[24]

Perasaan-perasaan jiwa (psikis) berpengaruh besar terhadap kebahagiaan individunya. Perasaan seseorang juga mudah menular (infeksi psikis) terhadap orang-orang disekitarnya. Kebahagiaan, kecemasan, kesedihan atau perasaan lain yang dialami seseorang, bisa dialami juga oleh lingkungannya.

Kondisi perasaan yang berkesinambungan yaitu dengan selalu timbulnya rasa senang-tidak senang secara baur (tidak jelas) biasa disebut dengan “suasana hati”. Perasaan-perasaan (suasana hati) tersebut mengandung penilaian konteks terhadap situasi hidup (lingkungan) yang bisa menjadi dorongan untuk berbuat baik atau sebaliknya kepada lingkungannya. Perasan merupakan bagian primer dari kehidupan psikis, tetapi dia juga dipengaruhi oleh pikiran (fungsi pengenalan dan pengalaman masa lalu, dan pemecahan konflik) serta dorongan-dorongan perasaan positif muncul apabila terpenuhinya berbagai dorongan kebutuhan, sedangkan perasaan negatif muncul apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi.[25]

Perasaan negatif seperti rasa cemas, lelah, perasaan takut, rendah diri (perasaan diri negatif) bisa menimbulkan perasaan takut atau rasa tidak sehat yang bisa mengganggu efisien kerja sehari-hari. Perasaan tersebut bisa mempermudah masuknya pengaruh luar yang masuk kedalam jiwa. Pada tiap-tiap orang ada satu perasan yang menonjol, bisa terhadap harta, ilmu, anak-anaknya atau terhadap dirinya sendiri. Perasaan yang menonjol itulah yang dapat menyatukan arah perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan yang besar terhadap kelakuannya untuk memuaskan atau memenuhi keinginan (perasaan dorongan) yang menonjol tersebut.[26]

Dalam ilmu jiwa telah diteliti bahwa yang merupakan pengendali utama dalam sikap, tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal (pikiran) saja, akan tetapi perasaan justru memegang peran yang lebih penting. Tidak selamanya perasaan tunduk pada pikiran, bahkan pikiranlah yang sering kali harus tunduk pada perasaan.[27] Perasaan bisa bekerja dan mempengaruhi pikiran tanpa pikiran menyadarinya. Pikiran dan perasaan dalam intensitas tertentu bisa menjadi dorongan-dorongan untuk melakukan sesuatu.

(***) Dorongan
Dorongan merupakan bentuk-bentuk perasaan dan pikiran yang bercampur daripadanya suatu kemauan untuk melakukan sesuatu. Dorongan dapat dibagi menjadi dua macam yaitu dorongan yang khusus (naluri) dan dorongan yang umum.

Dorongan khusus (naluri) merupakan satuan-satuan keturunan yang diwarisi dalam berbagai tingkatan tertentu,[28] yang merupakan pembawaan dari lahir untuk melakukan tindakan tertentu pada saat tertentu. Contoh naluri adalah naluri keibuan, ingin tahu, berperang, menyelamatkan diri, mencari makan, jijik, seks, minta tolong, tunduk berkuasa, berkumpul, meruntuh-membangun, dan naluri ketawa.[29] Kelakuan manusia dapat dikembalikan kepada dorongan fitrahnya yang utama atau naluri ini, karena naluri merupakan penggerak utama dari kelakuan.[30]

Dorongan umum meliputi sugesti, simpati, imitasi dan bermain. Sugesti merupakan pemindahan pemikiran (pengenalan) dari seorang kepada orang lain yang bisa terjadi dengan syarat-syarat tertentu.[31] Simpati merupakan suatu kecenderungan untuk turut melaksanakan apa yang dirasakan orang lain (feeling with another person).[32] Sedangkan imitasi, merupakan perpindahan bermacam kelakuan orang lain (untuk ditiru). Adapun bermain adalah kecenderungan untuk bersenang-senang.

Karena dorongan erat kaitannya dengan pikiran dan perasaan, maka dorongan juga bisa bersifat konstruktif atau destruktif , dimana pembentukan masing-masing saling berkaitan satu dengan yang lain. Dorongan merupakan motivasi jiwa untuk memenuhi kebutuhan.[33] Baik fisik maupun psikis, kebutuhan fisik meliputi makan-minum, seks, atau istirahat. Sedangkan kebutuhan psikis berbeda antara satu orang dengan orang lain karena tergantung pengalaman, pendidikan, dan lingkungan. Akan tetapi ada juga kebutuhan jiwa yang dirasakan oleh setiap orang seperti kebutuhan jiwa yang dirasakan oleh setiap orang seperti kebutuhan akan rasa kasih sayang, aman, bebas, harga diri atau sukses.[34]

Ketiga fungsi jiwa ini (pikiran, perasaan, dan dorongan) biarpun intensitasnya berbeda namun, selalu berkaitan dalam kehidupan psikis. Pengenalan (pemikiran) selalu disertai dengan perasaan dan atau dorongan, demikian pula perasaan dan dorongan selalu disertai dengan pengenalan (pemikiran).[35] Sehingga hampir tidak ada yang disebut dengan perasaan murni atau pengenalan dan dorongan murni tanpa melibatkan fungsi yang lain.

Keserasian fungsi-fungsi jiwa terjadi apabila masing-masing dari fungsi tersebut bekerjasama secara harmonis dimana tidak ada yang difungsikan lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya diperlukan.[36] Sehingga memunculkan kemampuan untuk menghadapi perubahan baik dari lingkungan luar maupun dari fisiknya. Akan tetapi tidak jarang ketiganya saling berbenturan atau berlawanan sehingga menimbulkan kegoncangan-kegoncangan dalam jiwa. Apabila ketiganya tidak mampu untuk berintegrasi kembali maka kegoncangan yang terjadi bisa semakin hebat sehingga melebihi kemampuan jiwa. Keadaan inilah yang menyebabkan keadaan sakit pada jiwa. Namun perlu diingat bahwa tidak ada keharmonisan yang benar-benar sempurna, karena kemampuan fungsi jiwa pada masing-masing orang berbeda, yang menunjukkan sehat tidaknya mental adalah derajat jauh dekatnya keserasian tersebut dengan kondisi yang normal.[37]

[1] Kartini Kartono dan Jenny Andari, Hyhiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, (Bandung:: Penerbit Mandar Maju, 1989), hlm. 3

[2] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembina Dan Pengembangan Bahas Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hlm. 646.

[3] Ibid., hlm. 890

[4] Musthofa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), hlm. 21

[5] A. Supratiknya, Mengenal Perilaku Abnormal, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995), cet.6, hlm. 9

[6] Syamsu Yusuf, op.cit., hlm. 19

[7] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental Peranannya dalam Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1984), hlm.4

[8] Abdul Aziz el-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa atau Mental, terj. Zakiah Daradjat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989). Hlm. 38

[9] Yahya Jaya, Spiritual Islam: Dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 79

[10] Abdul Aziz el-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa atau Mental., op.cit., hlm. 36

[11] Ibid., hlm. 36

[12] Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, tth), hlm. 45

[13] Karini Kartono, Patologi Sosial 3: Gangguan-gangguan Kejiwaan, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), cet.1, hlm. 6

[14] Mas Rahim Salaby, Mengatasi Kegoncangan Jiwa, Membangun Ketahanan Mental: Perspektif al-Qur'an dan Sains, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), cet.1, hlm. 108

[15] Ibid.

[16] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), cet.7, hlm. 54

[17] WF. Maramis, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, (Surabaya: Erlangga University Press, 1990), hlm. 113

[18] Mas Rahim Salaby, op.cit., hlm. 110

[19] Nana Syaodih Sukamadinata, op.cit.,hlm. 109-110

[20] Abdul Aziz el-Qudsy, Ilmu Jiwa: Prinsip-prinsip dan Implementasinya dalam Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, tth), hlm. 136

[21] Maksudnya perasaan bersangkutan dengan fungsi mengenal sehingga dapat timbul karena mengamati, mengkhayalkan, menanggapi, memikirkan atau mengingat-ingat sesuatu.

[22] Abdul Aziz el-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa atau Mental , op.cit.,hlm.132

[23] S umardi Suryabrata, op.cit., hlm. 67-69

[24] Kartini Kartono, Patologi Sosial 3: Gangguan –gangguan Kejiwaan,, op.cit, hlm. 134

[25] Ibid, hlm. 153-154

[26] Abdul Aziz el-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa Atau Mental, op.cit, hlm. 133-134

[27] Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental: Pokok-pokok Keimanan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), cet. 2, hlm. 12-13

[28]Ibid, hlm. 103-104

[29] Ibid, hlm. 58

[30] Ibid, hlm. 108

[31] Abdul Aziz al-Qudsy, Ilmu Jiwa Prinsip-prinsip dan Implementasinya dalam Pendidikan, op.cit, hlm. 240

[32] Nana Syaodih Sukmadinata, op.cit, hlm. 79

[33] Kebutuhan-kebutuhan mendorong jiwa untuk memberikan respon terbaik guna memperoleh jalan untuk memenuhi kebutuhan tersebut

[34] Jamaluddin Ancok dan Fuad Nashari Suroso, Psikologi islami¸ (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995) cet. 2, hlm. 92

[35] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1983), cet. X, hlm. 13

[36] Ibid, hlm. 14

[37] Abdul Aziz al-Qudsy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa atau Mental, op.cit, hlm. 39

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Facebook Themes